Serial Realistic Mathematics Education (RME)

Pernahkah kita memperhatikan anak kecil yang sedang bermain balok? Ia menumpuk, mengukur tinggi, menata ulang, lalu berkata dengan bangga, “Lebih tinggi dari punyamu!” Atau anak yang sedang membagi biskuit pada teman lalu spontan berkata, “Kok punyaku lebih sedikit ya?” Tanpa kita sadari, mereka sedang mempelajari matematika yang hidup — matematika yang bisa dirasakan, bukan hanya dituliskan.

Selama ini, banyak dari kita berpikir bahwa matematika adalah dunia angka, simbol, dan rumus. Padahal sebelum semua itu muncul, anak sudah lama bersentuhan dengan rasa banyak dan sedikitrasa seimbang dan tidak seimbangrasa adil dan tidak adil. Itulah titik awal munculnya kemampuan berpikir matematis.

Pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) lahir dari kesadaran sederhana itu: bahwa belajar matematika seharusnya tidak dimulai dari hafalan rumus, tetapi dari pengalaman nyata yang dekat dengan kehidupan anak. RME mengajak kita memulai dari dunia yang mereka pahami, lalu perlahan membawa mereka menuju konsep yang lebih abstrak.

Coba bayangkan ruang kelas kita. Anak-anak Toddler yang sedang memasukkan bola ke dalam keranjang sambil menebak mana yang muat dan mana yang tidak — mereka sedang belajar tentang kapasitas. Anak-anak EYP yang menyusun warna berulang saat membuat gelang — mereka sedang bermain dengan pola. Siswa Primary yang mengukur panjang meja dengan penggaris buatan sendiri dari kertas lipat — mereka sedang memahami satuan. Sementara di Secondary, anak-anak yang membandingkan harga barang di dua toko berbeda sedang belajar tentang perbandingan dan proporsi.

Di tangan guru yang peka, semua momen itu bisa berubah menjadi pengalaman belajar yang penuh makna. Guru tidak perlu langsung memberi definisi atau rumus, tetapi cukup bertanya: “Kenapa kamu memilih yang ini?” atau “Bagaimana kamu tahu kalau itu lebih banyak?” Pertanyaan sederhana yang membuka ruang berpikir dan menumbuhkan rasa ingin tahu — kunci dari pembelajaran yang bermakna.

RME bukan sekadar metode mengajar matematika. Ia adalah cara pandang. Sebuah ajakan untuk melihat bahwa matematika ada di sekitar kita — di dapur, di taman, di jalan, bahkan di cara anak mengatur mainannya. Dan ketika anak merasakan matematika, mereka tidak hanya belajar menghitung. Mereka belajar memahami dunia, membuat keputusan, dan percaya pada kemampuan berpikirnya sendiri.

Mungkin saat ini kita tidak sedang mengajarkan rumus baru, tetapi sedang menumbuhkan sesuatu yang jauh lebih besar: rasa penasaran terhadap kehidupan — yang kebetulan berwujud matematika.#RW

Leave a comment

Trending