Serial Realistic Mathematics Education (RME)
Sering kali kita mengira belajar matematika harus terjadi dalam suasana yang khusus — dengan buku latihan, papan tulis, dan lembar soal. Padahal, banyak momen belajar terbaik justru terjadi tanpa kita rencanakan, tersembunyi dalam rutinitas sederhana yang anak lakukan setiap hari.
Inilah yang menjadi napas dari Realistic Mathematics Education (RME): melihat kehidupan sehari-hari sebagai sumber belajar yang tak terbatas. RME meyakini bahwa matematika tidak datang dari luar diri anak, melainkan tumbuh dari interaksi mereka dengan lingkungan. Guru yang peka akan menemukan bahwa hampir setiap kegiatan bisa menjadi titik awal pembelajaran matematika yang bermakna.
Bayangkan anak Toddler yang menata sendok di meja makan. Ia menghitung berapa banyak teman yang duduk di sana, menyesuaikan jumlah sendok dengan kursi yang tersedia. Tanpa sadar, ia sedang belajar tentang korespondensi satu-satu— dasar dari konsep jumlah dan kesetaraan. Atau anak EYP yang setiap pagi menaruh botol minum di rak sesuai warna tutupnya. Ia sedang belajar mengelompokkan dan membuat kategori — langkah awal dari berpikir sistematis.
Di kelas Primary, rutinitas seperti menata tas, menyusun buku, atau mengantre bisa menjadi kesempatan memahami urutan dan pola. Guru bisa mengajak anak memperhatikan posisi barisan, menghitung waktu tunggu, atau memperkirakan kapan giliran mereka tiba. Dari situ, muncul percakapan ringan tentang urutan, pengukuran waktu, dan perkiraan. Bagi anak, itu bukan pelajaran formal — melainkan kehidupan yang penuh logika alami.
Bahkan di Secondary, rutinitas bisa menjadi sumber refleksi matematis yang kaya. Misalnya, ketika siswa membandingkan lama perjalanan ke sekolah menggunakan dua jalur berbeda, mereka sedang berpikir tentang efisiensi dan perbandingan waktu. Saat mereka mengatur jadwal kegiatan ekstrakurikuler, mereka belajar tentang perencanaan dan rasionalisasi waktu. RME membantu guru melihat bahwa matematika hadir di balik setiap keputusan yang diambil anak.
Dengan pendekatan ini, guru tidak perlu menciptakan “soal” untuk memulai pelajaran. Cukup dengan membaca kehidupan anak dan mengubahnya menjadi konteks belajar. Misalnya, guru bisa berkata, “Tadi kamu butuh berapa langkah untuk sampai ke kelas?” atau “Kenapa rakmu penuh duluan?” Pertanyaan sederhana itu mengundang anak berpikir, menalar, dan menghubungkan pengalaman nyata dengan konsep matematis.
Ketika guru melihat rutinitas sebagai ruang belajar, anak tidak merasa sedang “belajar matematika”, tapi mereka hidup bersama matematika. Mereka belajar berpikir logis, membuat keputusan, dan menemukan makna dari hal-hal yang tampak sepele. Di sanalah letak keindahan RME — mengajarkan kita bahwa pembelajaran terbaik bukan selalu yang dirancang besar, tetapi yang lahir dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan kesadaran dan rasa ingin tahu. #RW






Leave a comment