Dalam perjalanan mempelajari Double Diamond dan Design Thinking, ada satu hal yang tidak bisa kita abaikan, yaitu, memahami tantangan dan kesalahan yang sering muncul saat menerapkan kedua kerangka ini. Sama seperti belajar hal baru lainnya, wajar jika ada kekeliruan di awal. Namun, mengenali kesalahan umum ini sejak dini akan membantu kita menjadi lebih efektif dalam menggunakannya.
Double Diamond dan Design Thinking sebenarnya dirancang untuk mempermudah kita memahami masalah dan menemukan solusi. Tetapi, tanpa penerapan yang benar, kerangka ini bisa terasa rumit, bahkan membingungkan. Mari kita bahas beberapa kesalahan yang sering terjadi dan bagaimana cara menghindarinya.

Kesalahan Umum dalam Double Diamond
1. Melewatkan Tahap Discovery
Kesalahan yang sering terjadi adalah terburu-buru mencari solusi tanpa memahami masalah dengan mendalam. Tahap Discovery sering dianggap sebagai pemborosan waktu, padahal di sinilah kita menggali akar masalah.
Contoh:
Ketika guru melihat siswa tampak tidak fokus di kelas, solusi yang langsung diambil adalah mengganti metode pengajaran. Namun, setelah beberapa minggu, masalah tetap ada karena ternyata penyebab utamanya adalah suasana kelas yang terlalu bising.
Cara Menghindari:
Luangkan waktu untuk observasi, wawancara, atau survei. Jangan tergesa-gesa masuk ke solusi sebelum memahami inti permasalahan.
2. Rumusan Masalah yang Tidak Jelas
Pada tahap Define, kesalahan yang sering terjadi adalah merumuskan masalah secara terlalu luas atau samar-samar. Hasilnya, langkah-langkah selanjutnya menjadi tidak terarah.
Contoh:
Daripada mengatakan, “Siswa kurang termotivasi,” lebih baik merumuskan masalah seperti, “Siswa kelas 6 merasa metode belajar tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari.”
Cara Menghindari:
Buat pernyataan masalah yang spesifik dan relevan. Ini akan menjadi panduan untuk semua langkah berikutnya.
3. Terburu-buru di Tahap Develop
Pada tahap Develop, banyak orang terlalu cepat puas dengan satu ide yang terlihat menjanjikan. Padahal, dengan eksplorasi lebih lanjut, kita bisa menemukan ide-ide lain yang mungkin lebih efektif.
Cara Menghindari:
Jangan berhenti di satu atau dua ide saja. Ajak tim untuk brainstorming lebih luas sebelum menyaring ide terbaik.

Kesalahan Umum dalam Design Thinking
1. Empati yang Dangkal
Tahap Empathize adalah dasar dari Design Thinking, tetapi sering kali dilakukan seadanya. Kita mungkin merasa sudah memahami masalah hanya dari pengamatan atau asumsi pribadi, tanpa benar-benar melibatkan pengguna.
Contoh:
Dalam merancang alat bantu belajar, guru langsung memilih teknologi tanpa bertanya kepada siswa apakah mereka nyaman menggunakan teknologi tersebut. Akibatnya, alat tersebut jarang digunakan karena siswa merasa kesulitan.
Cara Menghindari:
Luangkan waktu untuk berbicara dengan pengguna. Dengarkan kebutuhan mereka secara langsung, bukan berdasarkan asumsi.
2. Menghakimi Ide Terlalu Cepat
Tahap Ideate sering kali terganggu oleh kebiasaan kita untuk langsung menilai ide. Ide-ide yang terlihat tidak realistis sering kali dibuang, padahal justru bisa menjadi awal dari inovasi besar.
Contoh:
Ketika guru mengusulkan pembelajaran berbasis proyek yang melibatkan komunitas lokal, ide tersebut langsung ditolak karena dianggap terlalu sulit diorganisir. Padahal, dengan sedikit modifikasi, ide tersebut bisa menjadi pendekatan yang sangat efektif.
Cara Menghindari:
Jangan terburu-buru menilai. Kumpulkan semua ide terlebih dahulu, lalu seleksi secara bertahap.
3. Mengabaikan Iterasi di Tahap Prototype dan Test
Banyak yang berharap solusi langsung berhasil di percobaan pertama. Ketika prototipe tidak sesuai harapan, proses sering kali dihentikan.
Contoh:
Seorang kepala sekolah mencoba metode pengajaran baru di satu kelas, tetapi hasilnya tidak sesuai harapan. Bukannya memperbaiki pendekatan, proyek dihentikan karena dianggap gagal.
Cara Menghindari:
Iterasi adalah bagian dari proses. Jangan takut untuk memperbaiki prototipe berdasarkan umpan balik dan mencoba lagi.

Kesalahan yang Sama-Sama Terjadi dalam Double Diamond dan Design Thinking
1. Tidak Melibatkan Perspektif Lain
Kolaborasi sering dianggap merepotkan, sehingga proses dilakukan sendiri. Hasilnya, solusi yang dihasilkan cenderung sempit dan kurang kaya.
Cara Menghindari:
Libatkan orang lain—tim, siswa, orang tua, atau pemangku kepentingan lainnya. Perspektif mereka bisa memperkaya proses.
2. Mengabaikan Data
Keputusan sering kali diambil berdasarkan asumsi, bukan fakta. Padahal, data adalah fondasi dari solusi yang relevan.
Cara Menghindari:
Manfaatkan data yang tersedia untuk mendukung setiap langkah, mulai dari memahami masalah hingga mengevaluasi solusi.

Bagaimana Kita Mengatasi Kesalahan Ini?
- Pahami Tujuan di Balik Setiap Tahapan
Jangan hanya mengikuti langkah-langkah. Luangkan waktu untuk benar-benar memahami mengapa setiap tahap itu penting. - Kolaborasi adalah Kunci
Melibatkan berbagai perspektif akan menghasilkan solusi yang lebih kaya dan bermakna. - Berani Bereksperimen
Jangan takut gagal. Kegagalan adalah bagian dari proses belajar yang membawa kita lebih dekat pada solusi terbaik. - Jaga Fleksibilitas
Kerangka ini adalah panduan, bukan aturan baku. Sesuaikan proses dengan kebutuhan dan konteks.
***
Kesalahan adalah bagian dari perjalanan. Dalam Double Diamond dan Design Thinking, kesalahan bukan akhir dari segalanya. Sebaliknya, ini adalah kesempatan untuk belajar, beradaptasi, dan menciptakan solusi yang lebih baik. Dengan mengenali kesalahan-kesalahan ini, kita bisa lebih percaya diri dalam menerapkan kedua kerangka ini. Mari kita gunakan setiap tantangan sebagai peluang untuk tumbuh dan menciptakan dampak yang bermakna, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang-orang di sekitar kita. Apakah kita siap melangkah dengan lebih bijak dan percaya diri? ***






Leave a comment