Setelah kita memahami bagaimana Double Diamond membantu kita memecah masalah secara mendalam dan menciptakan solusi yang berdampak nyata, kini saatnya kita melihat ke sisi lain: tantangan yang sering muncul dalam proses ini. Seperti perjalanan apa pun, menerapkan kerangka Double Diamond bukanlah sesuatu yang berjalan mulus tanpa hambatan.
Namun, justru di sinilah letak kekuatan Double Diamond—kerangka ini tidak hanya membantu kita menyusun solusi, tetapi juga membangun cara berpikir baru yang lebih sabar, sistematis, dan kreatif. Tantangan yang kita hadapi bukan untuk dihindari, tetapi untuk dipahami dan diatasi.
Mengapa Tantangan dalam Double Diamond Muncul?
Dalam praktiknya, hambatan sering muncul karena kebiasaan lama yang sulit diubah. Kita terbiasa mencari solusi cepat, ingin hasil instan, dan merasa tidak nyaman ketika harus “berhenti” untuk berpikir lebih dalam. Selain itu, tantangan juga bisa datang dari lingkungan, kebiasaan tim, atau pola pikir yang masih melihat proses eksplorasi sebagai sesuatu yang membuang waktu.
Tantangan ini wajar. Namun, jika kita mampu menghadapinya dengan pola pikir growth mindset yang sudah kita bahas di artikel sebelumnya, maka proses dalam Double Diamond justru bisa menjadi sarana untuk membangun ketekunan dan kreativitas. Tantangan yang sering muncul diantaranya:

1. Terburu-Buru Ingin Menyelesaikan Masalah
Salah satu tantangan terbesar adalah keinginan untuk langsung “lompat” ke solusi tanpa benar-benar memahami masalah. Proses Discovery dan Define membutuhkan waktu, observasi, dan kesabaran. Namun, banyak orang merasa bahwa langkah ini terlalu panjang dan ingin segera menemukan jawaban.
Contoh:
Misalnya, seorang guru melihat muridnya sulit fokus di kelas. Alih-alih mencari tahu apa penyebabnya, guru langsung mengubah metode mengajar tanpa memahami situasi sebenarnya. Akibatnya, solusi tersebut tidak menyelesaikan masalah dan justru menambah kebingungan.
Solusi:
Lihat tahap Discovery sebagai investasi waktu. Semakin mendalam kita memahami masalah, semakin kuat solusi yang kita rancang. Ingat, solusi cepat yang tidak tepat hanya akan membuat kita kembali ke titik awal.
2. Kesulitan Berpikir Terbuka dalam Proses Ideasi
Tahap Develop mengharuskan kita berpikir divergen—membuka pikiran seluas-luasnya dan menerima ide apa pun tanpa menghakimi. Namun, sering kali, kita terbiasa menyaring ide terlalu cepat atau takut berpikir “di luar kebiasaan.” Akibatnya, kita kehilangan peluang untuk menemukan solusi yang inovatif.
Contoh:
Ketika seorang kepala sekolah mengajak timnya brainstorming ide untuk meningkatkan inklusi di sekolah, beberapa anggota tim menahan diri karena takut idenya dianggap tidak relevan atau kurang praktis.
Solusi:
Ciptakan lingkungan yang aman dan mendukung dalam sesi brainstorming. Berikan pengingat bahwa tahap ini bukan untuk menyaring ide, melainkan untuk mengeksplorasi seluas-luasnya. Ide sederhana sekalipun bisa menjadi langkah awal menuju solusi yang besar.
3. Tidak Nyaman dengan Iterasi dan Proses Uji Coba
Tahap Prototype dan Test mengajarkan kita bahwa solusi terbaik lahir dari percobaan, masukan, dan perbaikan terus-menerus. Namun, bagi sebagian orang, kegagalan dalam uji coba sering kali dianggap sebagai tanda ketidakmampuan. Pola pikir seperti ini membuat proses iterasi terasa berat.
Contoh:
Seorang guru mencoba metode baru di kelas kecil, tetapi hasilnya tidak sesuai harapan. Guru ini merasa gagal dan enggan mencoba lagi. Padahal, tahap ini adalah kesempatan untuk belajar dan menyempurnakan solusi.
Solusi:
Lihat kegagalan sebagai bagian dari proses belajar. Dengan growth mindset, setiap uji coba adalah langkah maju. Kegagalan di tahap prototipe jauh lebih baik daripada kegagalan di skala yang lebih besar.
4. Kurangnya Kolaborasi dan Dukungan Tim
Double Diamond membutuhkan kolaborasi dan keterlibatan banyak pihak, terutama di tahap Discovery dan Develop. Namun, tantangan muncul ketika anggota tim tidak memiliki visi yang sama atau merasa proses ini tidak relevan.
Contoh:
Ketika sekolah ingin merancang program pembelajaran berbasis proyek, beberapa guru merasa proses pengumpulan informasi (discovery) terlalu panjang dan lebih suka langsung mencari solusi.
Solusi:
Bangun pemahaman bersama tentang pentingnya setiap tahap dalam Double Diamond. Kolaborasi bukan hanya soal bekerja bersama, tetapi juga mendengarkan, saling mendukung, dan memahami tujuan besar yang ingin dicapai.

Mengatasi Tantangan dengan Pola Pikir yang Tepat
Tantangan-tantangan di atas sebenarnya adalah peluang untuk belajar. Double Diamond mengajak kita untuk:
- Melatih kesabaran dalam memahami masalah dan tidak tergesa-gesa menyimpulkan.
- Membuka pikiran untuk mengeksplorasi ide tanpa takut salah.
- Belajar dari proses melalui uji coba dan perbaikan berkelanjutan.
- Berlatih kolaborasi dengan mendengarkan berbagai sudut pandang.
Proses ini mungkin terasa sulit di awal, tetapi seiring waktu, kita akan menyadari bahwa pola pikir seperti ini membuat kita lebih kreatif, lebih sistematis, dan lebih mampu menghadapi tantangan.
Tantangan adalah Bagian dari Proses Belajar
Menerapkan Double Diamond memang bukan perkara mudah, tetapi inilah yang membuatnya kuat. Tantangan yang muncul adalah kesempatan untuk melatih ketekunan, kreativitas, dan cara berpikir yang lebih mendalam.
Sebagai pendidik ada baiknya kita melihat tantangan bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai pintu menuju pertumbuhan. Proses ini mungkin memakan waktu, tetapi dengan kesabaran dan konsistensi, setiap langkah yang kita ambil akan membawa kita lebih dekat pada solusi yang bermakna.
Mari kita mulai dari diri kita sendiri. Apa tantangan yang sering kita hadapi dalam memahami masalah atau menciptakan solusi? Dan bagaimana kita bisa menerapkan prinsip Double Diamond untuk menghadapinya? Ingat, perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang terus diperbaiki. Tantangan bukan akhir perjalanan, melainkan titik awal menuju solusi yang lebih baik. ***






Leave a comment