Program “Little Lights Charity” adalah inisiatif inovatif yang digagas oleh FIS dengan tujuan menggabungkan pemahaman konsep matematika dengan kegiatan amal. Program ini dirancang untuk merangsang Multiple Intelligences, terutama kecerdasan interpersonal dan intrapersonal, melalui pendekatan Service Learning. Artikel ini akan membahas Learning Experience Design (LXD) dari “Little Lights Charity” secara lengkap, agar sosialisasi kegiatan ini memiliki dampak yang lebih luas bagi komunitas.

Program “Little Lights Charity” berawal dari kebutuhan untuk meningkatkan keterampilan sosial dan emosional siswa, memberikan pengalaman nyata dalam mengatasi masalah komunitas, dan mengembangkan karakter melalui keterlibatan dalam kegiatan amal. Beberapa faktor penting yang melatarbelakangi pengembangan program ini antara lain:
- Peningkatan Soft Skills:
- Mengembangkan kecerdasan interpersonal dan intrapersonal siswa dalam rangka memperbaiki kemampuan komunikasi, empati, dan pemahaman diri.
- Mengikutsertakan siswa dalam kegiatan amal yang memungkinkan mereka menerapkan konsep matematika dalam situasi nyata, serta memperdalam pemahaman tentang relevansi mata pelajaran ini dalam kehidupan sehari-hari.
- Pengalaman Nyata dalam Mengatasi Masalah Komunitas:
- Siswa terlibat dalam identifikasi dan analisis kebutuhan komunitas melalui survei, serta memberikan mereka pengalaman langsung dalam mengatasi masalah sosial.
- Kegiatan ini tidak hanya mengedukasi siswa tentang kondisi komunitas saat ini, tetapi juga melatih keterampilan analitis dan penelitian mereka.
- Pengembangan Karakter Melalui Service Learning:
- Metode service learning memungkinkan siswa berkontribusi pada masyarakat sambil mempelajari materi akademik, menghubungkan pendidikan dengan tanggung jawab sosial.
- Kegiatan yang dirancang mendukung pengembangan rasa kepemilikan dan tanggung jawab siswa terhadap komunitas mereka.
Tujuan Program
Program “Little Lights Charity” bertujuan untuk memberikan kesempatan penerapan pengetahuan yang berdampak nyata pada komunitas. Program ini memungkinkan siswa menerapkan konsep-konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari, sambil meningkatkan keterampilan sosial dan emosional mereka. Selain itu, program ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan partisipasi siswa dalam isu-isu sosial, serta mendorong mereka menjadi warga negara yang aktif dan peduli. Dengan demikian, siswa dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, serta empati dan tanggung jawab sosial, yang sangat penting untuk masa depan mereka.

Metodologi Service Learning yang Interaktif dan Partisipatif
Program “Little Lights Charity” menggunakan metodologi service learning yang interaktif dan partisipatif. Metodologi ini menggabungkan pembelajaran dengan pelayanan masyarakat untuk membuat pembelajaran lebih relevan dan nyata. Melalui pendekatan berbasis proyek, siswa terlibat aktif dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah, memungkinkan mereka untuk menerapkan konsep-konsep yang dipelajari di kelas dalam situasi kehidupan nyata.
Integrasi Konsep Matematika dengan Kegiatan Amal
Salah satu aspek utama dari program ini adalah integrasi harmonis antara konsep matematika dan kegiatan amal. Kegiatan amal digunakan sebagai medium untuk menerapkan pemahaman konsep matematika dalam konteks nyata. Misalnya, siswa dapat menggunakan keterampilan matematika mereka untuk merumuskan pertanyaan survei, menganalisis data yang dikumpulkan, membuat keputusan terkait donasi amal, serta merancang strategi yang efektif untuk mencapai tujuan sosial. Melalui pendekatan ini, siswa belajar bagaimana konsep matematika dapat diaplikasikan secara praktis dalam kehidupan sehari-hari untuk memberikan kontribusi positif kepada masyarakat.
Peran Penting Guru Bahasa Indonesia

Selain aspek matematika, program ini juga mengaplikasikan kemampuan komunikasi siswa melalui bimbingan Guru Bahasa Indonesia. Guru Bahasa Indonesia berperan sebagai komite utama, memastikan bahwa siswa mengembangkan keterampilan komunikasi yang efektif. Mereka memainkan peran penting dalam menstimulasi komunikasi interpersonal dan intrapersonal siswa, serta menyoroti manfaat berbuat amal. Dengan bimbingan mereka, siswa diajarkan cara menyusun pertanyaan survei, presentasi, dan materi komunikasi lainnya yang diperlukan untuk berkomunikasi secara efektif dengan berbagai pihak.
Selain itu, Guru Bahasa Indonesia juga berperan dalam mengembangkan sisi emosi dan humanisme siswa. Dengan pendekatan ini, program “Little Lights Charity” membekali siswa dengan keterampilan sosial dan emosional yang penting, sekaligus meningkatkan kesadaran siswa akan isu-isu sosial dan mendorong mereka untuk memahami serta merasakan manfaat dari berbuat amal. Hasilnya, siswa menjadi warga negara yang aktif dan peduli, siap memberikan kontribusi positif kepada masyarakat.
Implementasi Program
- Minggu 1: Persiapan dan Edukasi
- Sesi Orientasi: Mengenalkan program kepada seluruh siswa FIS.
- Workshop Service Learning: Diskusi tentang konsep service learning.
- Pembelajaran Tentang Target Charity: Edukasi tentang lokasi target yang telah ditentukan.
- Minggu 2: Survei dan Analisis Kebutuhan
- Pelaksanaan Survei: Siswa melakukan survei di lokasi target.
- Analisis Hasil Survei: Siswa menganalisis data dan merencanakan aksi.
- Minggu 3: Implementasi dan Partisipasi Seluruh Siswa
- Pembuatan dan Distribusi Kaos: Mendesain, memproduksi, dan menyebarkan kaos untuk penggalangan dana.
- Sesi Service Learning: Siswa melakukan kegiatan di lokasi charity.
- Sesi Refleksi: Diskusi kelompok untuk merefleksikan pengalaman dan pembelajaran.

Evaluasi dan Iterasi
Program “Little Lights Charity” menempatkan evaluasi dan iterasi sebagai komponen penting dalam pelaksanaan kegiatan. Evaluasi dilakukan secara berkala untuk memastikan program tetap efektif dan relevan bagi peserta. Salah satu metode utama adalah mengumpulkan feedback melalui survei, wawancara, dan form umpan balik dari siswa, guru, dan pihak terkait.
Langkah berikutnya adalah mengadakan diskusi refleksi untuk menganalisis feedback dan mengukur dampak kegiatan. Diskusi ini membantu mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki dan memastikan bahwa program mencapai tujuannya. Berdasarkan hasil refleksi, konten dan pendekatan program direvisi untuk meningkatkan efektivitas dan relevansi.
Proses iterasi ini memungkinkan program berkembang dan beradaptasi dengan perubahan, memastikan dampak positif dapat dirasakan secara maksimal oleh komunitas. Dengan demikian, program “Little Lights Charity” tidak hanya fokus pada pelaksanaan kegiatan, tetapi juga pada evaluasi berkelanjutan dan peningkatan kualitas. Hal ini memastikan tujuan program – mengembangkan keterampilan akademis, sosial, dan emosional siswa, serta meningkatkan kesadaran dan partisipasi dalam isu-isu sosial – tercapai dengan efektif. ***LC/R






Leave a comment