Apa pandangan umum Ms.Tika tentang pelaksanaan Bloom’s Taxonomy di level Secondary?
Bloom Taxonomy (B-Tax) adalah kerangka berpikir sistematis yang memiliki 6 fase berpikir yaitu remembering, understanding, applying, analyzing, evaluating dan creating. Di Secondary, B-Tax digunakan dalam proses perancangan lesson mapping, lesson plan, modul, handout, tugas, assessment maupun project. Kegiatan pembelajaran yang dirumuskan dengan B-Tax terbukti memberikan stimulus optimal kepada siswa. Sejauh ini implementasi Bloom’s Taxonomy yang hadir secara komplit di kelas melalui Collaborative Learning.
Apakah yang dimaksud Collaborative Learning?
Pembelajaran kolaboratif atau collaborative learning adalah pembelajaran terpadu, yang memuat 2 atau lebih mata pelajaran. Output dari pembelajaran kolaboratif dapat berupa project individual maupun kelompok. Pembelajaran kolaboratif bersifat brain friendly karena menautkan informasi yang sejenis dalam setiap mata pelajaran sehingga memudahkan peran otak saat memproses informasi. Pembelajaran kolaboratif harus dirancang berdasarkan Bloom’s Taxonomy karena tujuan pembejalaran kolaboratif adalah:
- Melatih kerapian dan sistematika berpikir siswa.
- Mengembangkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah.
- Mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa.
- Menumbuhkan minat belajar siswa.
Namun perlu digarisbawahi, untuk menghasilkan siswa yang memiliki struktur berpikir yang baik, guru harus memiliki thinking skill yang sangat bagus terlebih dahulu. Istilahnya, struktur berpikir Secondary Teacher harus Bloom’s Taxonomy banget. Penting dicatat bahwa di Secondary level, guru-guru terkondisikan memiliki struktur berpikir B-Tax yang sangat kuat. Learning environment bloom’s taxonomy memang sengaja dihadirkan sehingga semua guru Secondary, suka tidak suka, mau tidak mau, harus menggunakan skill berpikirnya supaya tidak terasing dari environment di Secondary. Stimulus dan supervisi dari secondary leaders (Principal dan LofiL) kepada guru juga harus tepat sasaran sehingga guru dapat menindaklanjutinya dengan benar.
Bagaimana ceritanya sehingga guru-guru Secondary memiliki pola pikir Bloom’s Taxonomy yang kuat?
Ada 3 hal utama yang disediakan oleh Tim Secondary, yaitu stimulus, pengkondisian dan pembiasaan. Ketiga hal tersebut dihadirkan secara terus menerus. Rangsangan yang diberikan oleh leaders memiliki peran terhadap sistematika berpikir guru. Selain itu, learning confirmation yang diberikan oleh leaders pun juga berandil dalam pembentukan sistem berpikir yang baik dan terstruktur. Agenda rutin yang dilakukan seperti reading, maupun diskusi lesson mapping berperan besar membentuk, merangsang, dan menyusun sistematika berpikir guru.
Hal lain yang tak kalah penting adalah menguatkan value tentang “Independent Learning”. Di Secondary, karena setiap guru adalah spesialis, maka para guru “diharuskan” menguasai bidang keilmuannya secara mendalam. Kondisi ini merangsang guru untuk mengembangkan diri secara mandiri. Feedback yang membangun juga memegang peranan. Guru memerlukan feedback sebagai tindakan untuk self evaluation dan perbaikan.
Secara garis besar bisa dikatakan apabila penguasaan B-Tax bagus, sistematika berpikirnya juga bagus. Pun apabila B-Tax bagus, maka independent learning akan lebih cepat mendapatkan pemahaman.
Bagaimana kemampuan menyerap informasi dan kemampuan belajar guru-guru Secondary?
Menurut saya, terdapat 2 faktor yang mempengaruhi kualitas penyerapan informasi, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah hal-hal yang berkaitan dengan guru secara individu. Dapat dikatakan bahwa tim Secondary merupakan tipikal pembelajar sehingga antusias belajar pengetahuan-pengetahuan baru. Kondisi ini berimbas pada aspek psikologis yang menumbuhkan kesiapan saat mendapatkan informasi baru. Dampaknya, informasi tersebut lebih cepat diserap dan dipahami.
Faktor lain adalah Tim Secondary memiliki kesempatan lebih besar untuk memfungsikan potensi inteligensinya. Inteligensi merupakan salah satu aspek yang berperan dalam penyerapan informasi. Siswa berusia remaja dengan perkembangan kognitif yang sudah mencapai tahap operasional formal didukung dengan materi pembelajaran Secondary yang lebih banyak memerlukan kemampuan berpikir sistematis, menjadi arena yang “mengkondisikan” tim Secondary memiliki kemampuan belajar dan menyerap informasi secara cepat. “Pengkondisian” ini mendorong munculnya “kebiasaan” dalam berpikir dan menyerap informasi.
Faktor eksternal lain adalah treatment yang diberikan oleh leaders. Value “tidak malu melakukan kesalahan saat belajar” menjadikan tim Secondary memiliki open-mindedness. Dengan pemikiran terbuka, tim Secondary dapat lebih mudah menerima umpan balik sehingga proses belajar pun lebih optimal. Begitu juga dengan kemampuan berpikir siswa. Kemampuan berpikir siswa menjadi salah satu “trigger” penting yang mempengaruhi kemampuan berpikir guru. Sebagai contoh, siswa Secondary, terutama S3, memiliki kualitas berpikir yang baik. Mereka sudah mulai mampu menyampaikan buah pikir yang kritis. Bila guru tidak mempunyai kemampuan berpikir yang baik, mereka akan kelimpungan menjawab pertanyaan-pertanyaan siswa.
Bagaimana penjelasan secara detail hubungan antara Independent Learning dan Bloom’s Taxonomy?
B-Tax merupakan kerangka berpikir yang mengandung 4 dimensi pengetahuan, salah satunya adalah pengetahuan metakognitif. Sesuai dengan teori, pengetahuan metakognitif terdiri dari 3 elemen yaitu pengetahuan strategik, pengetahuan tentang operasi kognitif dan pengetahuan tentang diri sendiri. Dari definisinya, metakognisi mengandung 2 hal yaitu kesadaran individu tentang proses berpikirnya – yang meliputi apa yang sudah diketahui, belum diketahui dan ingin diketaui – serta kecapakan individu untuk mengelola proses berpikirnya sendiri.
Sedangkan independent learning adalah strategi belajar yang memposisikan pembelajar sebagai penentu dari proses belajarnya. Dengan demikian, individu memiliki peran signifikan terhadap kualitas atau keberhasilan proses belajarnya. Agar proses belajarnya berhasil, individu harus mampu melakukan beberapa hal seperti identifikasi diri, evaluasi diri dan menentukan tujuan belajarnya. Tanpa hal-hal tersebut, kegiatan belajar atau pengembangan diri yang dilakukan secara mandiri oleh individu akan sia-sia dan tidak berarah tujuan. Untuk bisa melakukan langkah-langkah tersebut dengan optimal, diperlukan proses kognitif yang baik. Dan kualitas serta kemampuan berpikir memiliki peran kunci dalam menjalankan strategi independent learning. Sehingga, individu dengan kemampuan berpikir yang baik dan sistematis, memiliki peluang lebih besar untuk berhasil menjadi independent learner.
Dengan demikian, dapatlah dikatakan bila B-Tax memiliki hubungan yang erat dengan independent learning. Kualitas B-Tax yang dimiliki oleh individu akan menentukan kualitas independent learning yang dilakukannya. Sebagai kerangka berpikir, B-Tax memiliki peran yang dapat berpengaruh secara signifikan terhadap keberhasilan strategi independent learning. ***





