A. Pengertian Cold Calling

Cold Calling adalah sebuah strategi pembelajaran untuk merangsang kemampuan berpikir dan keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran melalui metode tanya jawab terstruktur dan terarah. Dalam metode ini, siswa memiliki kesempatan yang sama untuk ikut terlibat aktif dalam diskusi melalui stimulus dan kondisi yang diciptakan dan dirancang secara matang oleh guru.

Mengingat cold calling adalah sebuah strategi pembelajaran maka guru memiliki peran penting dalam membuat perencanaan yang matang berdasarkan realita dalam menciptakan kondisi, merancang pertanyaan dan memprediksi output dan mengolah data tersebut melalui pemikiran yang runtut untuk mendesign sebuah proses cold calling yang terstruktur.

B. Tujuan Cold Calling

Guru memiliki peran penting dalam metode cold calling. Hal pertama yang harus dipahami dengan baik adalah tujuan dari metode cold calling itu sendiri. Pemahaman tujuan ini akan membantu guru merancang mekanisme cold calling dengan rapi, detil dan terstruktur.

Ada beberapa tujuan dari cold calling:

a. The spirit in inclusive and invitational. Cold calling memiliki tujuan untuk mendorong keterlibatan aktif semua siswa dalam pembelajaran. Dorongan ini dimunculkan dengan pendekatan yang “smooth” dan terstruktur agar semua siswa merasa dilibatkan dalam proses diskusi.

b. Everyone’s contribution matter. Strategi ini memungkinkan semua siswa dengan karakter dan tingkat pemahaman yang berbeda untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran.

c. Accountability and inclusive go hand in hand. Dengan sistem tanya jawab yang melibatkan semua siswa tanpa terkecuali, maka siswa diajak untuk berlatih mendengarkan dengan saksama dan fokus dalam proses belajar. Pembiasaan ini akan membantu mereka memberikan respons yang benar sesuai stimulus pertanyaan yang diberikan.

d. Everyone is made to think. Strategi ini juga bertujuan untuk membangun pembiasaan berpikir sebagai bagian dari proses belajar siswa. Siswa akan diajak untuk mencerna dan berpikir sebelum akhirnya membuat sebuah respons.

e. The response are responsive. Strategi ini akan sangat membantu guru dalam mendapatkan data tentang realita dari pemahaman siswa terhadap bahasan topik yang diberikan. data ini akan sangat berguna untuk menentukan strategi pembelajaran selanjutnya.

Mengacu pada definisi dan tujuan cold calling, maka strategi pembelajaran ini dapat diterapkan guru untuk mendapatkan keuntungan yang berimbang pada guru dan siswa.

Siswa. Cold calling dimaksudkan untuk memfasilitasi siswa dalam terlibat aktif dalam pembelajaran dan membangun environment yang mendukung. Siswa membutuhkan strategi ini untuk melatih fokus dan pembiasaan berpikir dalam pembelajaran. Hal ini akan sangat berguna bagi siswa karena fokus dan pembiasaan berpikir ini akan mempercepat pemahaman mereka terhadap sesuatu. Strategi ini juga akan memperdalam pemahaman mereka dengan mendengarkan dan merespons jawaban dari siswa yang lain. Selain itu, strategi ini akan membangun kepercayaan diri siswa untuk speak up dan terlibat aktif dalam diskusi kelas.

Guru. Di sisi lain, guru pun sebetulnya dapat memanfaatkan strategi pembelajaran ini. Strategi ini juga berguna bagi guru terutama dalam membangun jembatan antara siswa yang sangat aktif dan siswa yang pasif. Guru dapat memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk terlibat aktif sehingga murid yang pasif pun memiliki kesempatan untuk mengungkapkan pendapat. Hal ini juga akan membantu guru dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif dan aktif untuk mempermudah siswa menerima dan memahami informasi. Cold calling juga menjadi sarana bagi guru untuk mendapatkan data seberapa jauh pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan (realita) sehingga guru dapat mengolah data ini untuk menentukan strategi efektif dalam pengajaran selanjutnya.

C. Alasan penggunaan Cold Calling

Setelah guru memiliki pemahaman yang baik mengenai pengertian dan tujuan dari cold calling, maka hal mendasar yang melatarbelakanginya pentingnya cold calling adalah manfaat yang diperoleh dari penerapan metode ini.

Bagi guru, metode ini efektif untuk membangun keterlibatan aktif siswa. Guru dapat mengetahui pemahaman siswa terhadap materi dari kualitas respons atas pertanyaan yang diberikan. Dengan mengajak siswa untuk fokus memperhatikan, menyimak penjelasan dan menjawab pertanyaan, maka secara tidak langsung guru menstimulasi kognitif siswa agar memiliki struktur berpikir yang runtut.

Selain itu, dari hasil monitoring proses dan progress yang ditunjukkan siswa, guru memperoleh data apakah siswa berhasil mengoneksikan prior knowledge dengan new knowledge yang diberikan sehingga menjadi pengalaman belajar yang bermakna, atau perlu dilakukan pengulangan kembali supaya pemahaman siswa semakin baik.

Sedangkan bagi siswa, manfaat cold calling adalah menjadikan siswa aktif berpikir, engage dan merasa dilibatkan sehingga mereka percaya diri untuk mengungkapkan pemikirannya. Dari kualitas respon yang disampaikan, siswa mendapat feedback dari guru berupa konfirmasi apabila jawaban yang diberikan tepat maupun bimbingan dan support apabila jawaban yang diberikan belum tepat.

Untuk dapat mengimplementasikan cold calling, hal pertama yang harus dilakukan guru adalah menetapkan tujuan yaitu untuk mengembangkan kognitif siswa melalui kemampuan dalam mengoneksikan prior knowledge yang dimiliki dengan new knowledge. Guru mengecek pemahaman siswa terhadap materi dengan menstimulasi peran aktif siswa dalam berpikir dan menyampaikan pendapat untuk merespon pertanyaan. Selanjutnya, guru menggunakan formula data to value chain untuk menentukan langkah-langkah mulai dari mengumpulkan data mapping kemampuan dan kebutuhan siswa serta approach dan procedure yang dibutuhkan kemudian mengolahnya menjadi sebuah informasi. Informasi tersebut dikaitkan dengan knowledge yang dimiliki sehingga membentuk knowledge baru dimana guru menyertakan prediksi dan antisipasi untuk memastikan cold calling dapat berjalan sesuai tujuan yang ditetapkan. Setelah decision dibuat, tahap selanjutnya adalah melakukan action dan memonitor proses dan progess yang muncul sehingga outcomes yang dihasilkan dapat dievaluasi sehingga dimungkinkan untuk dilakukannya proses iterasi.

D. Langkah-langkah penerapan Cold Calling

Metode cold calling dapat dilakukan dengan menerapkan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Ask the question
    Dalam tahap ini, guru memberikan pertanyaan yang ditujukan untuk semua siswa untuk mengetahui sejauh mana pemahaman yang mereka miliki. Setiap siswa harus menyiapkan jawaban dan memiliki kesempatan yang sama dengan siswa lainnya untuk ditunjuk dan memberikan respon.
  2. Give thinking time
    Siswa diberi waktu untuk berpikir dan menyiapkan jawaban. Waktu yang diberikan disesuaikan dengan tingkat kompleksitas dari pertanyaan. Pada tahap ini, guru berkesempatan untuk mengobservasi focus siswa terhadap tugas.
  3. Select someone to respond
    Guru memilih salah satu siswa untuk menjawab. Pada tahap ini, guru perlu berhati-hati dan tidak tergesa-gesa untuk mengoreksi dengan jawaban yang tepat supaya siswa yang kurang percaya diri juga termotivasi untuk berpendapat.
  4. Respond to the answers
    Ketika siswa yang dipilih membagikan jawabannya, guru perlu menanggapi jawaban dengan penegasan dan menggunakan pertanyaan yang lebih mendalam untuk mengetahui proses tentang bagaimana siswa menemukan jawabannya secara kronologis. Jika jawaban salah, guru dapat menanggapinya dengan menghargai usaha yang sudah dilakukan dan menyatakan bahwa jawabannya kurang tepat sebelum menjelaskan kembali.
  5. Select another student and respond again
    Guru meminta salah satu siswa lainnya untuk menanggapi pertanyaan yang sama. Guru dapat memilih siswa secara acak termasuk siswa yang aktif maupun yang kurang percaya diri.

E. Kelebihan dan Kelemahan Cold Calling Cold Calling memiliki kelebihan diantaranya:

Kelebihan :

  1. menstimulasi siswa untuk aktif berpartisipasi dalam proses belajar dengan cara merespons pertanyaan guru,
  2. mengembangkan keterampilan berfikir lewat proses iterasi,
  3. melatih kepercayaan diri dengan menyampaikan jawabannya kepada guru dan siswa lainnya,
  4. membantu guru untuk mendapatkan update data dari progres respons yang ditunjukkanmasing-masing siswa.

Kekurangan:

Dari segi proses, kekurangan yang sangat nampak adalah dengan menstimulasi seluruh siswa untuk aktif berfikir dan memberi respons, maka hal ini seperti melakukan slowing down proses pembelajaran, alias prosesnya terkesan lambat. Akan tetapi sebenarnya yang dilakukan adalah memperkuat fondasi konsep dasar dulu secara merata.

Dari segi sumber daya guru, apabila guru tidak memahami apa itu Cold Calling, mengapa digunakan, apa yang menjadi tujuan bila menggunakannya, kapan akan digunakan, bagaimana prosedur penerapannya, bagaimana prediksi respons siswa, apa Langkah antisipatif terhadap respons tersebut, sampai pada evaluasi efektifitas penggunaan Cold Calling, maka kelebihan yang dipaparkan sebelumnya berpotensi tidak akan tercapai.

Dengan kata lain guru perlu pemikiran dimana untuk mencapai tujuan, maka diawali dengan mencari data yang relevan untuk mencapai tujuan tersebut. Bukan mencari data dulu baru set tujuan. Dalam mencapai tujuan, akan terjadi proses, namun juga harus dimonitor progresnya juga. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka dibutuhkan alur untuk mencapai tujuan; yaitu dengan data to value chain.

F. Approach and Procedure

Untuk lebih mendukung tujuan ini, maka terdapat 10 langkah agar Cold Calling dapat diaplikasikan. Pengaplikasian langkah ini menggunakan formula Data to Value Chain.

  1. Menentukan tujuan
    Guru perlu memiliki pemahaman yang matang tentang tujuan penggunaan cold calling yaitu membentuk kebiasaan berpikir pada siswa. Pembentukan kebiasaan berpikir ini dapat diraih dengan melihat kelima tujuan dasar cold calling.
  2. Menggali Data
    Setelah menentukan tujuan, langkah selanjutnya adalah mencari data yang relevan dengan tujuan. Data tersebut antara lain: students’ mapping tentang karakter dan kemampuan siswa dan target pembelajran yang akan diberikan kepada anak.
  3. Mengolah Data
    Data relevan yang sudah didapatkan kemudian diolah dan digunakan sebagai bahan pertimbangan sebelum mendesign kegiatan. Pertimbangan yang dibuat oleh guru menjadi dasar penting sukses tidaknya pengaplikasian cold calling. Pertimbangan ini juga mencakup prediksi dan antisipasi pelaksaan cold calling.
  4. Menggunakan knowledge untuk mendesain kegiatan.
    Design kegiatan mencakup strategi yang dipilih, yaitu pre-call, batched-call, rehearse and affirm. Pilihan strategi harus didasarkan pada alokasi waktu, kebutuhan dan tujuan.
  5. Membuat Driving Questions
    Pertanyaan dalam metode cold calling sebaiknya diberikan secara bertahap mengikuti tahapan berpikir Bloom Taxonomy. Hal ini dilakukan untuk membantu siswa membentuk pembiasaan berpikir yang sistematis dan runtut dan membantu guru dalam memonitor proses dan progress cold calling.
  6. Membuat prediksi atas response siswaSebelum cold calling benar-benar dijalankan maka guru perlu untuk membuat beberapa prediksi atas respons yang muncul. Prediksi respon mencakup respons yang diharapkan muncul dan respons lain yang mungkin diberikan siswa.
  7. Mempersiapkan feedback yang bisa diberikan sebagai
    Setelah membuat prediksi atas respons siswa, maka guru perlu untuk mempersiapkan feedback yang sesuai. Feedback tersebut haruslah feedback yang membangun dan memotivasi siswa untuk terus terlibat dalam proses pembelajaran.
  8. Melakukan action atas Langkah-langkah yang telah disiapkan.
    Setelah semua persiapan dilakukan maka guru dapat mengimplementasikan rancangan cold calling yang sudah dibuat dan dipikirkan secara matang. Guru perlu untuk benar-benar memahami prosedur pelaksanaan cold calling yaitu: bertanya, berikan waktu berpikir, pilih siswa yang akan merespond, berikan feedback dan tanyakan kepada siswa yang lain.
  9. Melakukan evaluasi atas jalannya penerapan cold calling
    Tahap evaluasi dilakukan untuk mengetahui efektifitas penerapan cold calling. Dalam tahapan ini guru melihat hal-hal apa saja yang sudah dan belum berjalan sesuai rancangan. Guru juga dapat melihat sejauh mana pemahaman siswa melalui feedback yang diberikan selama pelaksanaan cold calling.
  10. Melakukan Iterasi
    Iterasi memiliki tujuan untuk membentuk pembiasaan berpikir. Dalam hal ini guru harus dengan saksama melihat evaluasi sebagai data yang akan diolah kembali untuk melakukan perbaikan dan mencapai tujuan penggunaan cold calling. ***

Trending