Pengalaman apa yang bisa dibagikan setelah mengikuti Cambridge Seminar?
Sesuai dengan peran saya di FIS sebagai Learning Improvement Program Coordinator (LIPCo), seminar ini menjadi modal penting untuk terus mengembangkan kurikulum; terutama Cambridge Curriculum. Ini kesekian kalinya saya mengikuti seminar yang diadakan Cambridge. Saya banyak bertemu orang-orang dari seluruh dunia sharing pengalaman sebagai Curriculum Coordinator. Seminar itu sendiri bertajuk Curriculum Coordinators Enrichment.
Apa peran dan fungsi Curriculum Coordinator (CC)?
- Manajemen. Peran ini berfokus pada pemahaman CC terhadap konten kurikulum yang diterapkan oleh sekolah. CC harus skillful dalam memahami kurikulum, dan mengelola referensi kurikulum (seperti panduan kurikulum, kerangka kerja, silabus, tujuan pembelajaran, dll.). CC juga harus mahir mengelola perencanaan dan pengembangan kurikulum supaya siswa mendapatkan pembelajaran yang baik. Artinya, semua produk pembelajaran harus berkualitas, efektif, dan membuat siswa mengalami optimal learning. Peran ini menuntut CC always be resourceful in the area of expertise.
- Pemahaman. Peran CC yang satu ini mencakup dua aspek, yaitu What’s teachers think, and What’s learners think. Untuk memahami pola pikir guru, CC secara rutin harus memantau apa yang dikerjakan guru untuk anak didiknya. Dalam hal ini, CC tidak hanya bertugas memberikan penilaian, tetapi lebih dari itu, CC harus tepat memetakan kemampuan guru, mengidentifikasi tantangan lanjutan bagi guru, serta menindaklanjuti program yang sedang berjalan supaya siswa mengalami best learning experience. Sementara untuk mengelola cara berpikir siswa, CC perlu mengobservasi pembelajaran yang terjadi di dalam kelas; utamanya bagaimana siswa merespons pembelajaran dan menganalisa hasil belajar siswa. Karena hal ini merepresentasikan pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan oleh guru di kelas.
- Perbaikan. Peran utama CC adalah ‘Ensuring Progress” . Peran ini akan mustahil dicapai apabila CC tidak sensitive terhadap progress guru. CC harus fasih menstimulasi guru supaya mereka bisa membuat rancangan pembelajaran yang mempresentasikan a good teaching.

Bagaimana caranya supaya CC mampu memberdayakan kemampuan teacher mendesain “good teaching”?
Ada 6 prinsip yang harus diperhatikan oleh CC dan teachers:
- A good teaching happens when teachers pay attention to student’s needs.
- A good teaching happens when teachers activates students’ prior knowledge before learning new knowledge.
- A good teaching must continuously triggers curiosity and provide room for students to roam around with questions, clues and solutions.
- A good teaching must be connected with real world/life situations to make it sense, impactful and meaningful.
- A good teaching must pay attention to learning environment in order to create active learning comprehensively and unlimited by time and space.
- A good teaching is the ability to manipulate (make use of effectively and efficiently) tools and supplies contributing to deepen students’ understanding.
Kembali ke statement “what teachers think, and what learners think”. Bisa dijelaskan lebih detail?
“What’s teachers think” dan “What’s learners think” adalah dua aspek yang merujuk pada dua kelompok utama, yaitu, guru (teachers) dan siswa (learners).
- What’s teachers think: Ini merujuk pada pemahaman guru terhadap proses dan kebutuhan dasar dalam pembelajaran. CC perlu memantau apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh guru terhadap pembelajaran. Misalnya dalam hal kemampuan guru dalam mengajar, tantangan yang dihadapi, serta bagaimana bentuk support yang dibutuhkan supaya kualitas pengajaran mereka lebih baik.
- What’s learners think: Ini merujuk pada pemahaman siswa terhadap kebutuhan dasar belajarnya. CC harus paham betul bagaimana siswa merespons pembelajaran, apa yang mereka sukai, apa yang mungkin menjadi tantangan bagi mereka, dan apa yang mereka butuhkan supaya pengalaman belajarnya lebih baik. Artinya, CC dan guru harus bekerja sama supaya dapat merancang pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa serta meaningful.

Berbicara mengenai “Thinking”. Mengapa “thinking” menjadi dasar setiap aktivitas pembelajaran?
“Thinking” menjadi dasar setiap aktivitas pembelajaran karena membantu siswa mengembangkan kemampuannya dalam memecahkan masalah, berpikir kritis, dan mudah memahami sesuatu. Selain itu, pembelajaran yang berfokus pada proses berpikir akan mengajarkan siswa mengalami meaningful learning. Siswa akan memiliki kemampuan mengaitkan ilmu pengetahuan yang dimiliki dengan dengan situasi nyata yang dihadapi. Gampangnya, siswa akan terampil menghadapi situasi tertentu dan mencari solusi terbaik.
Apakah artinya siswa akan selalu melakukan aktivitas “thinking”?
“Thinking” akan menjadi dasar setiap aktivitas pembelajaran, karena siswa memang harus dibiasakan berpikir; tentu sesuai dengan perkembangan kognitif mereka. Oleh sebab itu, desain pembelajaran harus memberikan akses dan resource yang lengkap. Supaya siswa terstimulasi untuk selalu menggunakan logikanya untuk menghadapi masalah. Kebiasaan ini sekaligus membangun kemampuan siswa supaya adaptif, bisa menghadapi situasi, dan bisa menjadi problem solver yang baik. Aktivitas berpikir akan mengajarkan siswa untuk berpikir dahulu sebelum bertindak.
Kembali ke pertanyaan, apakah siswa akan selalu melakukan aktivitas thinking? Tidak. Meskipun “thinking” menjadi fokus utama dalam pembelajaran, tetapi tidak selalu harus dipenuhi dengan mikir, mikir, dan mikir tanpa memberi ruang bagi siswa untuk berkreasi dan menikmati belajarnya. Adalah tugas guru untuk menerapkan strategi belajar yang menyenangkan, namun tetap memperhatikan porsi yang berimbang antara thingking dan doing.
Dalam seminar tersebut juga hadir Alan Cross. Apa yang dibicarakan?
Alan Cross, mengatakan, ”The weakness of experience is only focusing on doing not thinking”. Menurut saya, ini sangat relevan. Sebagai CC, saya tidak boleh terlalu tergoda oleh desain pembelajaran yang hanya membuat anak senang, tetapi menomorduakan stimulasi perkembangan “thinking”. Yang benar adalah membuat teaching strategy dimana menstimulasi proses berpikir anak adalah fokus utamanya. Meskipun aktivitas-aktivits kreatif yang dirancang oleh guru sangat menghibur anak, namun aktivitas stimulasi thinking tetap nomer satu. Setiap hari siswa harus mengalami meaningful learning di segala suasana.
Bagaimana dengan update terbaru silabus Cambridge?
Silabus Cambridge yang baru penting ditanggapi dan ditindalanjuti karena mengarahkan kita pada perkembangan jaman. Saat ini, FIS telah responsif dengan menyesuaikan perubahan silabus tersebut dengan buku lain yang menjadi rujukan FIS. Perubahan lain yang cukup signifikan adalah adanya perubahan pada konten materi dan indikator penilaian Progression Test (PT) dan Check Point Test (CP Test).
Apa saja yang baru dari silabus Cambridge?
Pada konten materi, Cambridge menerapkan 2 metode baru.
- Thinking and working Mathematicaly untuk pelajaran matematika.
- Thinking and working Scientifically untuk pelajaran sains.
Disini siswa diajak untuk menyelesaikan real world/life issues yang dekat dengan mereka. Siswa dilatih menggunakan metode tersebut dengan basis observation, project based, atau experiment. Sedangkan untuk indikator penilaian, ada sedikit perubahan pada nilai persentase keberhasilan pada penilaian Progression Test. Mulai tahun 2022, untuk Primary English Stage 4 (Kelas 4), persentase untuk nilai dengan predikat ‘bronze’ adalah 0-39 dari total poin yang dijawab benar oleh siswa. Sebelumnya, di tahun 2018, predikat Bronze adalah 0-37 poin. Artinya, ada peningkatan pada batas bawah nilai yang dicapai siswa. Tim Kurikulum FIS sedang menganalisis perubahan ini supaya kualitas pembelajaran semakin baik. ***





