REHEARSE AND AFFIRM
Apa itu cold calling?
Cold calling merupakan teknik mengajar dimana guru memberikan pertanyaan dan meminta siswa untuk menjawab dengan memberitahukan siapa yang mendapat giliran untuk menjawab sehingga siswa dapat mempersiapkan diri. Cold calling bertujuan meningkatkan perhatian, engagement dan partisispasi siswa dalam pelajaran. Cold calling menantang siswa untuk berpikir secara aktif sehingga akan menolong siswa mencapai pemahaman yang lebih baik terhadap pelajaran yang disampaikan dengan meningkatkan keterlibatan mereka di
kelas.
Saat siswa berpikir aktif mereka akan lebih mudah mengingat karena memory is the residue of thoughts. Dengan membuat informasi ada di working memory siswa, kesempatan informasi tersebut akan masuk ke dalam long term memory akan semakin besar. Cold calling memungkinkan hal itu terjadi. Cold calling yang diterapkan secara rutin akan membentuk pembiasaan pada siswa untuk mendengarkan, memperhatikan dan terlibat. Karena setiap orang bisa mendapat giliran untuk menjawab maka memperhatikan pelajaran menjadi sebuah kebutuhan. Secara tidak langsung menerapkan cold calling dapat melatih executive function skills siswa karena mereka harus menggunakan flexible attention, working memory dan inhibitory control mereka ketika cold calling dilakukan di kelas.
Cold calling dapat diterapkan dengan beberapa strategi sebagai berikut:
1. Pre-call: guru menunjuk siswa yang nantinya akan memberikan feedback sebelum menyampaikan materi.
2. Batched Cold-call: guru menunjuk beberapa siswa sekaligus untuk memberikan feedback setelah guru menyampaikan materi. Guru meminta mereka menjawab secara bergiliran sehingga mereka bisa bersiap dan hal ini juga memungkinkan guru mengembangkan pertanyaan.
3. Rehearse and Affirm: Guru memberikan semua siswa kesempatan untuk menjawab secara non-verbal kemudian guru memilih jawaban yang benar atau menarik dan meminta siswa menjelaskan jawaban atau pemikirannya.
Dalam cold calling, baik guru maupun siswa memiliki peran yang sama pentingnya. Secara teknis, guru terlebih dahulu memperlihatkan perannya. Guru mengarahkan siswa untuk memperhatikan materi agar dapat menjawab pertanyaan yang diberikan. Setiap siswa dikondisikan untuk memberikan kontribusi sehingga siswa dapat menyadari bahwa memperhatikan materi dan terlibat dalam kegiatan belajar adalah sebuah kebutuhan, bukan keharusan. Agar bisa berjalan dengan baik, cold calling membutuhkan suasana kelas yang nyaman dan aman bagi siswa, suasana yang hangat sehingga siswa tidak ragu untuk mengutarakan pendapatnya bahkan bagi mereka yang pendiam atau pemalu.
Manfaat Cold Calling
Penerapan cold calling memungkinkan guru untuk menggali lebih dalam tentang cara berpikir para siswanya, bagaimana cara mereka memecahkan masalah yang dilontarkan guru dalam pertanyaannya. Para siswa juga bisa diajak untuk menyimpulkan sebuah konsep dengan berpikir bersama, dengan bersama-sama berpartisipasi menyusun pengetahuan baru bagi mereka dalam pelajaran di hari itu.
Dengan berpikir dan berpartisipasi secara aktif tersebut, para siswa tentunya akan lebih mudah mengingat pelajaran. Working memory mereka dipakai secara aktif sehingga executive function skills mereka diasah. Imbasnya penguasaan materi dan kepercayaan diri siswa meningkat sehingga siswa akan terdorong untuk berperan serta dengan aktif. Saat setiap siswa memberikan kontribusi maka dominasi siswa tertentu akan dapat dihindari. Tidak hanya itu, guru juga dapat mengecek pemahaman setiap siswa dengan lebih mudah.
Penerapan Cold Calling Dalam Kegiatan Belajar Mengajar
Dalam menerapkan cold calling guru harus terlebih dahulu memiliki pemahaman yang baik tentang cold calling itu sendiri. Definisi, tujuan, dan bagaimana teknis pelaksaan cold calling adalah hal mendasar yang harus dikuasai guru. Hal penting yang harus digaris bawahi agar penerapan cold calling berjalan lancar dan bisa mencapai tujuan adalah cold calling harus berlangsung dalam suasana yang brain friendly, untuk itu feedback yang guru berikan sifatnya harus positif dan membangun. Untuk menerapkannya, guru dapat menerapkan formula WDEP (wants, doing and directing, evaluation, planning) yang diperkuat dengan kerangka berpikir Data to Value chain.
Dalam menggunakan formula WDEP, langkah pertama yang harus diambil tentunya adalah menentukan tujuan yang akan dicapai. Selanjutnya, guru menyusun, rencana, dan mengevaluasi rencana yang berjalan dari hasil yang terlihat. Perencanaan haruslah dilakukan dengan sangat baik dengan mempertimbangkan knowledge yang berasal dari olahan informasi yang kita dapatkan, memetakan tantangan atau kesulitan yang akan dihadapi, dan mengetahui sejauh mana kemampuan atau skill yang kita miliki.
Dalam menyusun rencana harus berlandaskan data yang faktual dan valid. Dengan demikian, pengumpulan dan pengolahan data menjadi hal yang sangat penting bagi keberlangsungan pembelajaran dengan strategi cold calling. Data to value chain dapat menjadi langkah-langkah yang efektif untuk mempersiapkan cold calling.
Untuk memperoleh data yang faktual dan valid, guru harus melakukan empathize pada beberapa aspek seperti tujuan pembelajaran dari materi yang akan disampaikan, kondisi dan perkembangan murid secara lengkap yang relevan dengan tujuan pembelajaran. Guru juga dapat merefleksikan pelaksanaan pembelajaran topik yang sama pada tahun sebelumnya, pengalaman guru berinteraksi dengan kelas tersebut, dan seterusnya. Selanjutnya, data yang diperoleh diolah mengikuti kerangka Data to Value chain sehingga menghasilkan rencana yang realistis, doable, dan achievable.
Langkah-langkah Persiapan Cold Calling
Menerapkan cold calling dalam pembelajaran di kelas tentunya membutuhkan persiapan yang matang. Beberapa langkah dalam menyiapkan penerapan cold calling dalam kegiatan belajar mengajar diantaranya adalah:
- Penguasaan guru terhadap cold calling dan Executive Functioning skills

Agar dapat menerapkan cold calling, hal yang paling mendasar adalah menguasai apa dan bagaimana cold calling. Setiap guru harus memiliki pemahaman yang benar dan mendalam. Dengan memiliki pemahaman yang sangat baik maka guru dapat menjalankan executive functioning skills yang dimiliki untuk menerapkan cold calling dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Hal ini dapat dilakukan melalui kelas TTC seperti yang sedang berjalan saat ini, presentasi, sesi GLD, project penerapan cold calling, dan lain sebagainya.
- Penggunaan data to value chain dalam proses persiapan penerapan cold calling.

Data to value chain adalah sebuah kerangka yang runtut dan terarah untuk membantu guru menyiapkan pelaksanaan cold calling. Melalui tahapan-tahapannya guru akan secara sadar menetapkan tujuan, mencari dan mengolah data, memahami dan mengkorelasikan knowledge yang dimiliki dengan prior knowledge yang sudah ada. Guru harus memiliki pemahaman yang baik terhadap cold calling lalu diolah dengan data yang dimiliki tentang karakter dan perkembangan murid, dan target akademis yang akan diberikan.
- Penyusunan rencana pelaksaan cold calling
Rencana pelaksanaan cold calling perlu disusun dengan seksama agar strategi yang dibuat bisa mencapai tujuan dengan tepat sasaran. Langkah ini dapat dilakukan dengan mengacu pada tahapan data to value chain di mana perencanaan dan pengambilan keputusan dibuat setelah melalui pengolahan informasi yang sangat matang. Selain itu, dalam membuat perencanaan, pemetaan dan prediksi akan kesulitan dan tantangan yang ada juga sudah harus diperhitungkan sehingga keputusan yang diambil adalah keputusan yang komprehensif meliputi antisipasi dan solusi masalah dan tantangan yang mungkin akan muncul.
Kelebihan dan Kelemahan Cold Calling
Penerapan teknik cold calling dalam kegiatan belajar mengajar dapat memberikan banyak dampak positif baik terhadap jalannya aktivitas pembelajaran maupun terhadap perkembangan setiap siswa meskipun ada pula beberapa kelemahannya.
Kelebihan:
- Siswa memiliki kesempatan yang berimbang untuk berpendapat sehingga dominasi siswa yang biasanya aktif dalam diskusi bisa diminimalisir.
- Semua siswa menangkap pesan bahwa kehadiran mereka itu penting sehingga membangun keterikatan siswa dan mendorong partisipasi siswa dalam pelajaran
- Pembiasaan dimana setiap siswa akan mendapatkan giliran sesuai dengan perencanaan yang sudah dibuat guru, akan membuat fokus dan kemampuan berpikir aktif siswa, serta kesadaran untuk memperhatikan materi yang disampaikan akan berkembang.
- Kepercayaan diri siswa menyampaikan pikirannya akan berkembang melalui feedback yang positif dan membangun yang diberikan guru, sehingga keterikatan siswa pada kegiatan belajar terus bertambah.
- Menumbuhkan sikap saling menghormati dan menghargai pendapat orang lain. Hal ini disebabkan karena diskusi cold calling berjalan dinamis di mana jawaban dan pendapat seorang siswa bisa dibuat menjadi pertanyaan untuk siswa yang lain.
- Memudahkan guru dalam mendapatkan data tentang pemahaman siswa sehingga guru dapat dengan segera melakukan follow up dan penyusunan rencana pembelajaran berikutnya.
Kelemahan:
- Membutuhkan waktu dan proses untuk dapat benar-benar terlaksana dengan benar dan optimal. Baik guru maupun murid membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan teknik cold calling. Di awal penerapan, bukan tidak mungkin penerapan cold calling akan memakan waktu yang tidak sedikit dari alokasi waktu belajar yang dimiliki.
- Jika guru kurang terampil dalam menyusun pertanyaan, memberikan feedback, dan mengarahkan jalannya diskusi maka cold calling pun tidak akan bisa mencapai hasil yang optimal.
- Siswa yang biasanya aktif mungkin akan merasa frustasi karena kurang bisa mengungkapkan pendapat yang dimilikinya karena belum mendapat giliran.
- Siswa dengan kepercayaan diri yang rendah juga akan merasa cemas dalam menjawab walaupun dia sudah dipersiapkan untuk menjawab.
- Penerapan cold calling dalam kondisi kelas dengan siswa yang potensial melakukan bullying maupun siswa dengan potensi kecemasan bisa meningkatkan terjadinya kedua hal tersebut
Kelemahan-kelamahan tersebut bisa diminimalisir dan dihilangkan setelah siswa dan guru berhasil beradaptasi dengan teknik cold calling. Penerapan cold calling juga harus direncanakan dengan sangat matang. Pengumpulan data di awal sebelum penerapan cold calling menjadi kunci dalam membuat perencanaan, sehingga apabila dari data ditemukan potensi negatif maka perencanaan yang dibuat harus memiliki penyelesaian terhadap potensi negatif tersebut. Selain itu kemampuan guru dalam mengendalikan diskusi dan time management yang baik dapat membantu cold calling berjalan secara efektif sehingga keberhasilan cold calling dan segala manfaatnya itu bisa tercapai.
Prosedur Penerapan Cold Calling
Berikut 10 langkah Prosedur Penerapan Cold Calling yang dapat dipakai sebagai panduan ketika guru ingin menerapkan cold calling di kelasnya:
1. Menentukan tujuan melakukan cold calling
Dengan menetapkan tujuan maka pelaksaan cold calling akan memiliki arah yang jelas. Tujuan yang ditetapkan meliputi target akademis dan tujuan dari penerapan cold calling itu sendiri. Sebagai contoh, di awal penerapan cold calling selain menentukan target akademis, guru juga menetapkan target cold calling seperti: memperkenalkan strategi cold calling dan melihat reaksi siswa terhadap strategi cold calling yang diterapkan.
2. Menganalisa dan memetakan kemampuan kognitif siswa
Untuk dapat mengetahui gambaran kemampuan kognitif siswa maka harus dikumpulkan data-data yang relevan dengan tujuan yang ingin dicapai dari penerapan cold calling. Guru harus memiliki awareness dalam melihat dan menemukan fakta dan realita di lapangan. Data yang dikumpulkan antara lain:
a. Kondisi kelas meliputi: jumlah siswa dalam satu kelas, komposisi siswa (top- middle-low), karakter siswa (aktif-pasif, talkative-quite), learning styles siswa (visual, auditory, kinesthetic)
b. Perkembangan akademis siswa seperti pencapaian siswa terhadap materi sebelumnya
c. Kendala-kendala yang selama ini dihadapi guru di kelas tersebut. Data yang diperoleh kemudian dianalisa dengan menerapkan concept of attainment dengan mempertimbangkan tujuan atau target yang sudah ditentukan sehinggakemampuan kognitif siswa dari kelas yang akan melakukan cold calling terpetakan dengan jelas.
3. Mensosialisasikan tujuan pelaksanaan cold calling
Dengan mensosialisasikan tujuan pelaksanaan cold calling, diharapkan siswa memiliki kesiapan saat cold calling dilaksanakan. Guru bisa menjelaskan bahwa cold calling bermaksud untuk mengajak mereka lebih aktif berpartisipasi di kelas sehingga tidak perlu merasa takut untuk mengutarakan pikirannya saat ditunjuk karena hal ini dimaksudkan untuk membantu siswa mengingat pelajaran dengan lebih baik.
4. Menentukan alokasi waktu pelaksanaan cold calling
Langkah ini berkaitan dengan time management sehingga penggunaan waktu yang dimiliki bisa maksimal. Yang perlu ditentukan antara lain: kapan, berapa lama dan jangka waktunya. Penentuan alokasi waktu ini tentunya dengan sudah mempertimbangkan data dan informasi yang berkaitan kemampuan kognitif siswa. Sebagai contoh, pembagian durasi antara penyampaian materi dan diskusi cold calling bisa menjadi celah masalah jika tidak dikelola dengan bijaksana.
5. Menentukan jenis strategi
Bermodalkan knowledge yang sudah dimiliki, guru harus jeli melihat dan memprediksi kesulitan atau tantangan yang mungkin akan muncul saat menjalankan rencana, sekaligus menyiapkan antisipasi yang dibutuhkan sehingga perlu dipilih strategi yang tepat yakni yang memiliki resiko paling rendah dan manfaat yang paling besar. Strategi yang bisa dipilih antara lain: pre-call, batched-cold call, atau rehearse and affirm tergantung dari tujuan dan kebutuhan cold calling.
6. Membuat skema strategi
Merujuk pada knowledge, tujuan awal yang sudah ditetapkan, dan juga tantangan yang dihadapi, guru memilih strategi yang paling sesuai serta menyiapkan langkah untuk mengantisipasi kesulitan yang akan dihadapi. Untuk itu perlu dibuat skema yang matang dan detail agar bisa terlaksana dengan baik. Hal-hal yang perlu direncanakan antara lain:
a. Alur jalannya cold calling misalkan memberikan pertanyaan secara berjenjang dari yang mudah ke yang lebih sulit.
b. Membuat daftar pertanyaan maupun daftar murid yang akan diberi pertanyaan sesuai dengan alur cold calling yang direncanakan
c. Membuat prediksi outcomes yang akan didapatkan
7. Melaksanakan cold calling
Melakukan cold calling sesuai dengan strategi yang telah diputuskan dengan alur dan daftar pertanyaan yang telah disiapkan. Saat melaksanakan cold calling dituntut kepekaan guru untuk membaca situasi sehingga bisa mengkondisikan kelas agar tujuan cold calling tercapai. Demikian juga keterampilan dalam mengatur waktu agar tidak melebihi dari alokasi waktu yang telah ditetapkan sehingga sesuai dengan peraturan atau prosedur yang berlaku di sekolah. Sebagai contoh, durasi belajar suatu mata pelajaran tidak bisa diperpanjang karena akan menerapkan cold calling, yang mengakibatkan durasi mata pelajaran lain menjadi berkurang.
8. Menentukan sarana pendukung
Materi yang akan disampaikan dan kelengkapannya harus dipersiapkan dengan kesadaran bahwa guru harus menjaga berlangsungnya kegiatan kelas dalam suasana yang positif dan membangun. Sarana pendukung yang dipilih harus mempertimbangkan data dan informasi yang berkaitan dengan kemampuan kognitif siswa termasuk di dalamnya learning styles siswa. Sarana pendukung ini pun dipilih yang paling menguntungkan untuk untuk mengembangkan kepercayaan diri dan meningkatkan keterlibatan siswa dalam belajar dengan mendorong partisipasi, engagement dan perhatian siswa. Hal ini bisa mengunakan gambar atau alat peraga tertentu.
9. Mengevaluasi pelaksanaan cold calling
Ketika cold calling dilaksanakan maka akan memunculkan data-data baru yang akan ditemukan guru. Data-data tersebut harus direkam untuk kemudian diolah dan dianalisa sebagai evaluasi pelaksanaan cold calling sehingga follow up yang tepat dapat diberikan. Hal-hal yang bisa dicatat lalu dianalisa antara lain:
- Bagaimana perhatian, engagement dan partisipasi siswa dalam cold calling?
- Apakah strategi cold calling yang dipilih berhasil?
- Apakah outcomes yang muncul bisa mencapai tujuan cold calling?
10. Melakukan perbaikan strategi dan melakukan iterasi
Dari analisa data pelaksanaan cold calling akan diperoleh informasi yang akan menjadi dasar perbaikan strategi sehingga pada pelaksanaan cold calling berikutnya akan lebih baik. Hal-hal yang berhasil dilaksanakan bisa dilanjutkan sedangkan hal- hal yang masih belum berjalan dengan baik bisa dilakukan iterasi.
Pada akhirnya jika cold calling berhasil dilaksanakan maka outcomes yang bisa diperoleh bukan hanya tercapainya tujuan tetapi ada banyak hal lain yang bisa dipetik. Kepercayaan diri siswa, kesatuan siswa di kelas, hubungan yang erat antara guru dan murid, terbangunnya sikap saling menghargai, dan seterusnya tentunya menjadi nilai (value) plus yang bisa didapatkan dari penerapan cold calling.





