Cold Calling merupakan salah satu metode atau teknik bertanya yang dapat digunakan oleh guru agar  setiap siswa mau terlibat untuk berpikir, memberikan jawaban dan pendapat tanpa adanya dominasi oleh sekelompok siswa tertentu saja.

Beberapa tujuan yang ingin dicapai melalui kegiatan Cold Calling antara lain:

  1. Membangun kebiasaan  siswa untuk  terlibat aktif dalam pembelajaran di dalam kelas.
  2. Membantu  siswa untuk lebih fokus menyimak, mendengarkan  serta memikirkan jawaban dan pendapat mereka.
  3. Memaksimalkan kinerja Working Memory sehingga apa yang dipelajari akan lebih mudah tersimpan di Long-Term Memory (LTM).
  4. Dengan  dilibatkan secara  aktif diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan semangat belajar siswa dalam mengikuti pelajaran di kelas.
  5. Dapat meningkatkan kemampuan komunikasi siswa secara verbal.
  6. Memungkinkan  guru untuk bisa mengukur tingkat kemampuan  dan pemahaman siswa melalui kualitas respon yang mereka sampaikan.

Guru  memegang peranan sangat  penting  dalam menjalankan  Cold  Calling.  Guru bertanggung jawab  secara   langsung menyusun    konsep,  strategi,    penerapan   serta mengevaluasi  kegiatan  cold calling dalam pembelajaran  kelas. Guru  harus  memastikan bahwa setiap  siswa  terlibat dengan cara mengajak  atau mengundang  mereka  untuk  ikut berpartisipasi.   Jika ada siswa  yang malu atau introvert,  tugas  guru  untuk  perlahan-lahan mengikutsertakan mereka untuk ambil bagian  dalam  aktivitas di kelas. Guru juga memastikan bahwa siswa  tidak  perlu  khawatir atau malu  untuk memberikan  jawaban  atau opini yang kurang  tepat, karena  guru akan tetap  mensupport  dan mengarahkan  pada jawaban yang benar.

Setiap guru berekspektasi bahwa kelas bukan hanya menjadi tempat untuk belajar  tentang materi yang diajarkan. Lebih dari itu, siswa diharapkan dapat mengembangkan kemampuan berpikir,  berkomunikasi  dan mengembangkan  potensi  yang mereka  miliki melalui   proses “belajar” di kelas. Proses  pembelajaran   itu sendiri tidak  hanya bertumpu  pada interaksi (transfer knowledge) satu arah dari guru kepada  siswa.   Belajar  terjadi melalui interaksi dari guru ke siswa,  siswa  ke guru dan siswa  ke siswa.  Engagement  merupakan  kunci  utama terjadinya interaksi tersebut.

Lalu,   bagaimana dengan pembelajaran  Sains di  kelas? Dapat dikatakan   bahwa engagement  belum  sepenuhnya  terjadi.  Beberapa  indikator  yang menunjukkan rendahnya engagement  siswa  diantaranya   belum semua siswa   terlibat   aktif  di kelas, masih ada sekelompok siswa yang belum fokus menyimak penjelasan  guru dan tampak kurang antusias mengikuti  kegiatan  pembelajaran.   Oleh sebab itu,  diperlukan  satu metode yang dapat mengkondisikan siswa supaya lebih engage  dalam pembelajaran. Cold Calling hadir menjadi salah satu alternatif bagi  guru untuk menghadapi realita belum optimalnya engagement siswa sebagaimana  dijelaskan di atas. Cold  calling dapat menjadi  sarana  guru  untuk mengukur tingkat pemahaman  siswa selain melalui metode  test tertulis atau  tugas.  Cold  Calling  juga dapat  membantu  guru meningkatkan  kemampuan  bertanya dan kualitas pertanyaan  yang dibuat.

Cold Calling memungkinkan  untuk diterapkan dalam pelajaran Sains baik pada topik yang bersifat faktual, konseptual,  prosedural  maupun abstrak. Cold calling dapat dilakukan melalui teknik pre-call, batched cold-call, dan rehearse and affirm. Pre call dilakukan dengan menyebutkan   terlebih  dahulu   nama-nama siswa   sebelum diminta   melakukan   aktivitas (misalnya melihat video, membaca  teks atau mengamati fenomena  alam). Batched cold-call dilakukan dengan  menunjuk beberapa siswa setelah guru memberikan penjelasan.  Rehearse and  affirm  dilakukan  dengan meminta  siswa menyiapkan  jawabannya  secara non-verbal, kemudian guru memilih beberapa  siswa dengan jawaban benar untuk disampaikan. Beberapa strategi   tambahan juga  dapat  dilakukan   seperti  think   pair-share   atau checking   for understanding. Strategi-strategi di atas dapat digunakan secara  bergantian,  divariasikan pada setiap meeting serta dapat diterapkan baik pada pertemuan tatap muka maupun kelas online. Pemilihan teknik dapat disesuaikan dengan kebutuhan.  Selain itu, jumlah siswa secondary di setiap level juga memungkinkan untuk diterapkannya Cold Calling. Jumlah siswa yang berkisar antara 18-28 dirasa cukup ideal untuk diterapkannya cold calling  di dalam kelas.

Langkah-langkah yang perlu diperhatikan dan dipastikan ada saat menjalankan cold calling, diantaranya

1. Memastikan  siswa memiliki prior knowledge dan prior skill yang cukup.
Minim  atau tidak  adanya prior  knowledge  dapat  menyebabkan  working  memory  tidak memiliki informasi yang dapat dipanggil dan dihubungkan dengan informasi baru sehingga Cold Calling/pembelajaran tidak berjalan dengan  lancar.

2. Memastikan jumlah siswa dan alokasi waktunya mencukupi
Guru  perlu memastikan jumlah siswa dan alokasi  waktu yang cukup untuk Cold Calling. Jumlah siswa yang terlalu banyak dapat menyebabkan waktu tunggu yang lama, dan jumlah kelas yang kecil membuat frekuensi cold calling terlalu sering dan menyebabkan kebosanan. Selain itu, guru perlu memiliki alokasi waktu yang cukup. Misalnya, dalam  2x40menit (1 pertemuan) maka berapa bagiannya yang akan digunakan  untuk Cold  Calling.  Jangan sampai Cold Calling ini justru menghambat proses pembelajaran.

3. Mengenalkan Cold Calling ke siswa supaya siswa tidak kaget
Otak   manusia tidak    menyukai    kejutan,    apalagi  kejutan    yang  sifatnya    kurang menyenangkan.  Untuk siswa yang introvert, menjawab  pertanyaan memerlukan effort yang tidak mudah. Ada baiknya guru memperkenalkan Cold Calling sebelum digunakan di kelas sebab perubahan habit ini tentu saja menuntut siswa untuk beradaptasi.  Memperkenalkan cold calling  kepada siswa sama halnya memberi waktu pada siswa untuk beradaptasi.

4. Memastikan semua siswa terlibat
Keterlibatan semua siswa menjadi kunci pada Cold Calling. Guru perlu memastikan semua siswa  terlibat  dengan demikian  semua siswa  merasa  diperhitungkan  di kelas. Hal ini membuat siswa merasa memiliki sekaligus merasa bertanggungjawab atas kelasnya.

5. Memberi waktu berpikir
Guru perlu memberi waktu berpikir kepada  siswa supaya  jawaban  siswa bukan jawaban spontan dan seadanya. Guru dapat memberikan pertanyaan, memberikan waktu berpikir atau dengan meminta   siswa  menuliskan   jawaban terlebih  dahulu   sebelum diminta menyampaikan secara verbal.

6. Merespon jawaban siswa dengan baik
Setelah siswa menyampaikan  jawaban,  guru harus memberikan respon dengan  baik. Jika siswa mampu menjawab dengan  benar, guru dapat memberikan apreasiasi. Namun, jika siswa mengalami  kesulitan atau tidak bisa menjawab  guru dapat menguraikan pertanyaan menjadi  lebih sederhana dan menggunakan   teknik  scaffolding   hingga siswa   dapat menjawab dengan benar sesuai target.

Beberapa  manfaat berikut  dapat  siswa  dan guru  peroleh dari pelaksanaan  Cold  Calling diantaranya:

1)  Siswa mampu berpartisipasi dalam pembelajaran di kelas.
Melalui  Cold Calling setiap  siswa  dikondisikan  untuk berpartisipasi  secara   aktif dalam aktivitas  tanya-jawab   dan diskusi  hingga terbentuk  kebiasan baru yang positif dan bermanfaat buat siswa.

2)  Siswa lebih fokus dalam menyimak dan memberikan jawaban dan pendapat mereka.
Melalui  keterlibatan  mereka  dalam Cold  Calling  siswa  diharuskan  untuk selalu  fokus mendengarkan, menyimak penjelasan, instruksi dan pertanyaan yang diajukan oleh guru serta memikirkan jawaban  dan pendapat  yang akan mereka sampaikan.

3)  Cold Calling dapat memaksimalkan kinerja Working Memory
Ketika siswa lebih fokus dalam  mengikuti pelajaran,  maka kinerja Working Memory akan jauh lebih baik, tidak adanya attention deficit, kemampuan  berpikir dan pemahaman siswa jauh lebih berkembang, sehingga apa yang dipelajari akan lebih mudah tersimpan dalam Long Term Memory (LTM).

4)  Siswa akan lebih termotivasi dalam pembelajaran di kelas
Ketika siswa  telah  terbiasa dengan kondisi  pembelajaran   dengan Cold  Calling  maka mereka akan lebih termotivasi dan bersemangat dalam mengikuti pelajaran di kelas.

5)  Meningkatkan kemampuan komunikasi dan rasa percaya diri siswa
Melalui  Cold  Calling  siswa  mampu mengembangkan   kemampuan  komunikasi secara verbal, mereka jadi lebih terbiasa untuk berbicara dan mengemukakan pendapat sehingga akan terbangun rasa percaya diri.

6)  Guru mampu untuk mengukur kemampuan dan pemahaman  siswa melalui kualitas respon yang disampaikan siswa.
Melalui Cold Calling guru secara langsung dan komprehensif bisa mengukur sejauh mana siswa  memahami   materi    yang diajarkan  melalui  respon  dan jawaban yang mereka berikan. Hal ini menjadi acuan  untuk menilai pemahaman  siswa selain melalui tes tertulis serta tugas atau projek yang mereka kerjakan.

7)  Guru lebih terlatih untuk membangun  komunikasi dengan siswa dalam hal menyampaikan pertanyaan serta mampu  untuk mengembangkan strategi pengajaran  yang lebih baik. Melalui Cold Calling guru bisa meningkatkan kemampuan  komunikasinya terutama dalam hal mengajukan  pertanyaan yang tepat  kepada siswa  serta mampu  mengembangkan strategi mengajar yang bermanfaat bagi siswa.

Namun seperti  halnya pada strategi  yang lain, Cold Calling juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain :

1)  Proses pembelajaran  dapat berjalan lebih lama.
Cold Calling  dapat membuat proses pembelajaran berjalan lebih pelan karena guru perlu memastikan setiap siswa mampu menjawab pertanyaan serta benar-benar  paham dengan materi yang diajarkan. Selain itu, diperlukan waktu dan pendekatan  tersendiri untuk siswa yang pemalu, introvert dan tidak terbiasa untuk berpendapat secara verbal di kelas. Proses ini tentu saja memerlukan waktu yang lebih lama.

2)  Cold  Calling  kurang akomodatif  jika diterapkan pada kelas besar dengan  jumlah siswa yang banyak. Dengan kelas yang berukuran  besar dengan jumlah  siswa yang banyak diperlukan proses dan waktu yang lebih lama bagi guru untuk menjalankan  Cold Calling sehingga  dikhawatirkan bisa menimbulkan rasa bosan pada diri siswa.

3)  Bergantung pada Prior knowledge siswa
Kurangnya   prior   knowledge   siswa   dapat   menjadi   salah satu penghambat dalam pelaksanaan Cold Calling. Guru memerlukan waktu yang lebih lama  untuk memastikan agar siswa memiliki prior knowledge yang cukup untuk terlibat dalam Cold Calling.

4)  Kurang sesuai untuk lower level
Menerapkan  Cold  Calling  di lower  level  memiliki  banyak   tantangan.   Siswa  memiliki pengetahuan  yang masih minim, kemampuan menyampaikan pendapat yang belum baik berpotensi menurunkan motivasi atau membuat trauma jika siswa merasa tidak nyaman.

5)  Berpotensi menurunkan motivasi bagi siswa yang aktif
Cold  Calling  berpotensi   menurunkan  motivasi  siswa  yang biasanya   aktif  menjawab pertanyaan secara langsung, terbiasa untuk mengajukan  ide dan gagasan yang mereka miliki. Jika tidak dikelola   dengan baik, dikhawatirkan  Cold  Calling  menyebabkan siswa bosan karena harus menyesuaikan dengan  siswa lain dengan  karakter dan kemampuan yang sedikit berbeda.

Untuk mengoptimalkan   pelaksanaan   Cold Calling maka diperlukan adanya  approach and procedures yang tepat. Berikut ini 10 langkah Approach and Procedures yang dapat digunakan sebagai panduan bagi guru dalam menerapkan Cald Calling:

1. Menetapkan tujuan Cold Calling.
Tujuan penerapan Cold Calling adalah menciptakan kebiasaan baru dimana setiap siswa terlibat  dalam kegiatan  tanya-jawab  di kelas, tanpa di  dominasi oleh kelompok siswa tertentu  saja. Penting  bagi Guru  untuk menetapkan tujuan  Cold Calling sebagai dasar acuan  menentukan langkah-langkah  selanjutnya dalam penerapan Cold Calling.

2. Memetakan  tingkat kemampuan siswa.
Merupakan langkah awal pengumpulan data dan informasi mengenai  kondisi siswa ketika menjawab  pertanyaan dan berdiskusi di kelas sebagai  bahan  untuk menganalisa kebutuhan siswa terhadap penerapan Cold   Calling.   Guru  perlu memetakan  kemampuan  kognitif siswa, engagement  dan mental  siswa.  Pemetaan  ini dijadikan  acuan untuk  menentukan metode dan membuat kelompok (jika diperlukan). Usahakan membuat kelompok (batched cold call) yang homogen.

3. Menentukan posisi Cold Calling dalam pembelajaran
Penentuan posisi Cold Calling dilakukan sesuai dengan  fungsi dari Cold Calling itu sendiri dan sesuai dengan peta kemampuan   siswa.  Cold  Calling  dapat  dilakukan  di awal pembelajaran (untuk recalling), saat mengerjakan latihan soal, berdiskusi topik tertentu, saat konstruksi  knowledge   (setelah  melakukan  eksperimen  atau investigasi)  atau pun saat membuat kesimpulan.

4. Menentukan strategi Cold Calling dalam pembelajaran.
Guru juga dapat memilih beberapa strategi cold calling, misalnya pre call, batched  call, atau rehearse and affirm. Pre call :dengan  menyebutkan terlebih dahulu nama-nama siswa sebelum  diminta melakukan  aktivitas (melihat video, mengamati fenomena atau membaca teks).  Batched  cold-call  : dengan menunjuk  beberapa  siswa  setelah  guru memberikan penjelasan. Rehearse and affirm : memberikan kesempatan siswa menyiapkan jawabannya secara non-verbal, kemudian guru memilih beberapa  siswa dengan  jawaban benar untuk menyampaikan.

5. Menentukan strategi pendukung
Menentukan  strategi  untuk mendukung   Cold  Calling, misalnya penggunaan   think-pair- share  atau check  for  understanding.  Pada think-pair-share  guru meminta  siswa  untuk berdiskusi  dengan rekannya  dalam batas waktu  tertentu;  check  for  understanding  guru mengkonfirmasi ulang pemahaman  siswa dengan  pertanyaan yang lebih mendalam  atau membandingkan / melakukan cek silang dengan jawaban rekan mereka yang lain.

6. Menentukan alokasi waktu
Penentuan durasi cold calling disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan dari Cold Calling. Sebagai contoh,  dalam satu pertemuan (2×40 menit) jika Cold Calling akan dilakukan saat recalling prior knowledge maka dapat dialokasikan ±10 menit untuk Cold Calling.

7. Membuat daftar pertanyaan berikut prediksi jawaban dan teknik scaffoldingnya.
Daftar pertanyaan dan prediksi jawaban  perlu dibuat sebagai guideline bagi guru. Selain itu, teknik memecah   pertanyaan menjadi lebih  simpel diperlukan sebagai antisipasi  jika siswa kesulitan menjawab  pertanyaan guru.

8. Menyusun daftar nama siswa.
Hal ini dipersiapkan lebih awal sehingga  memudahkan  guru untuk menjalankan  skenario pelaksanaan Cold Calling. Selain itu juga untuk menyesuaikan dengan  kemampuan  siswa. Menyusun  daftar nama siswa  dapat  dilakukan  dengan mengkombinasikan  kemampuan siswa yang beragam  disesuikan dengan  strategi Cold Calling yang digunakan.

9. Pelaksanaan langkah-langkah dalam Cold Calling.
Setelah  membuat  persiapan  (tahap  1-8), maka Cold  Calling  dapat  dilakukan  dengan mengikuti lima langkah berikut : 1) tanyakan, 2) beri waktu berpikir, 3) pilih siswa untuk merespon,  4)  tanggapi jawaban siswa,  5)  pilih siswa  lain untuk  menjawab/merespon jawaban.

10. Mengevaluasi pelaksanaan Cold Calling.

Evaluasi digunakan  untuk menentukan  efektivitas Cold Calling yang sudah dilakukan. Jika hasil   belum optimal, maka dimungkinkan   pengulangan atau dapat juga  dengan memberikan tambahan atau pendampingan pada siswa yang membutuhkan.

Trending