A. Mengenal Cold Calling

Cold Calling merupakan metode tanya jawab dalam pembelajaran yang dilakukan guru dengan memberikan pertanyaan kepada siswa yang terpilih. Pemilihan siswa tidak dilakukan secara acak karena guru perlu menyesuaikan dengan data yang telah diolah sebelumnya. Melalui metode ini, semua siswa dapat berpartisipasi tanpa adanya dominasi dari siswa lain sehingga dapat membantu meningkatkan kemampuan komunikasi dan kepercayaan diri siswa. Metode Cold Calling ini memiliki 3 teknik yang bisa menjadi pilihan guru, yaitu Pre-call, Batched Cold-call, dan Rehearse and Affirm.
Secara umum tujuan Cold Calling adalah melatih siswa untuk berpikir dengan pemberian pertanyaan langsung pada siswa terpilih sehingga mereka dapat terlibat dan berpartisipasi aktif tanpa adanya dominasi siswa lain. Metode Cold Calling tidak hanya melatih siswa untuk berpikir namun juga membantu siswa untuk lebih fokus.
Cold Calling menjadi fasilitas bagi guru maupun siswa dalam mewujudkan pembelajaran 2 arah yang lebih responsif. Bagi guru, implementasi metode Cold Calling di kelas dapat membantu guru mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran. Selain itu, guru dapat melakukan konfirmasi mengenai pemahaman siswa secara menyeluruh. Melalui metode Cold Calling, siswa juga dapat terlatih untuk berani mengungkapkan pendapat tanpa khawatir melakukan kesalahan karena guru akan memberikan umpan balik yang sesuai dengan tingkat pemahaman siswa
B. Alasan Guru Perlu Melakukan Cold Calling
Metode Cold Calling yang dilakukan dengan maksimal mampu memberikan manfaat bagi guru dan siswa. Manfaat pelaksanaan Cold Calling dirangkum dalam poin-poin berikut ini:
1. Melatih siswa untuk berpikir dengan mengajukan pertanyaan. Semua siswa dilibatkan dan diajak untuk mempersiapkan diri dengan menyiapkan jawabannya masing-masing. Tidak hanya siswa yang aktif saja yang ikut berpartisipasi namun siswa yang pasif pun juga terlibat dalam kegiatan pembelajaran.
2. Mendapat konfirmasi tentang pemahaman siswa dalam pembelajaran. Pada metode Cold Calling ini, siswa akan diajak untuk terlibat dengan menanggapi pertanyaan guru dan guru bisa menggali lebih dalam jawaban siswa untuk mengetahui apakah siswa sudah memahami materi atau belum.
3. Meningkatkan fokus siswa dalam kegiatan belajar. Siswa akan dipilih oleh guru untuk memberikan respons setelah atau sebelum materi dijelaskan. Di strategi ini, guru bebas memilih siswa mana saja untuk memberikan responsnya. Dari hal tersebut, siswa akan lebih fokus untuk berpikir dan mempersiapkan jawabannnya karena guru bisa bebas memilih siswa yang akan dipanggil.
4. Melatih kepercayaan diri dan kemampuan berkomunikasi siswa Metode Cold Calling ini tidak hanya mengajak siswa untuk terlibat namun juga melatih kemampuan berkomunikasi mereka. Saat siswa memberikan tanggapan ataupun menjelaskan jawabannya, kemampuan berkomunikasi mereka akan terasah. Selain itu, tingkat kepercayaan diri mereka juga akan bertumbuh.
5. Membuat kelas menjadi lebih kondusif karena tidak ada dominasi di antara siswa. Jika di kelas biasanya hanya siswa yang aktif dan paham saja yang terlibat di kegiatan pembelajaran, di metode Cold Calling ini semua siswa diajak untuk ikut berpartisipasi.
C. Strategi Pelaksanaan Cold Calling
Ada 3 strategi pelaksanaan dari metode Cold Calling yang bisa menjadi pilihan guru. Dalam proses memilih strategi yang tepat, guru perlu memahami kondisi kelas termasuk penguasaan materi, alokasi waktu, dan keaktifan siswa yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa sehingga hasil yang didapatkan dapat mencapai standar yang diinginkan. Berikut ini adalah 3 pilihan strategi untuk pelaksanaan metode Cold Calling:
1. Pre-call
Strategi ini dilakukan dengan cara guru menunjuk siswa untuk menjawab pertanyaan setelah materi diberikan sehingga siswa akan mempunyai waktu untuk mempersiapkan jawabannya. Misalnya, guru memanggil Michael sebelum menyampaikan materi tentang ciri-ciri pantun. Setelah guru menjelaskan, Michael diminta untuk menjawab pertanyaan terkait dengan materi tersebut. Pre-call dirasa tepat jika digunakan untuk menggali pemahaman siswa terhadap materi yang sudah disampaikan oleh guru.
2. Batched Cold-call
Dalam strategi ini guru akan menjelaskan materi terlebih dahulu kemudian memanggil beberapa nama siswa dalam 1 sesi tanya jawab. Mereka akan bergantian mengemukakan jawabannya. Misalnya, guru menjelaskan mengenai keragaman budaya di Indonesia. Setelah menyampaikan materi, guru akan memanggil Michael, Aura, dan Jayden untuk menjawab pertanyaan seputar keanekaragaman budaya. Ketiga siswa tersebut akan menjawab sesuai gilirannya.
3. Rehearse and Affirm
Strategi ini dilakukan dengan memberikan pertanyaan di kelas kemudian siswa menuliskan jawabannya di kertas atau media lain. Seluruh lembar jawab siswa kemudian akan diserahkan pada guru. Jawaban yang terkumpul kemudian dapat dipilih guru sesuai konfirmasi yang ingin disampaikan guru sehingga siswa dapat memperoleh pemahaman yang tepat. Misalnya, seluruh siswa kelas 5 mengumpulkan jawaban ciri-ciri pantun pada lembar jawab sesuai instruksi. Setelah jawaban seluruh siswa terkumpul, guru bisa mengetahui ketepatan pemahaman siswa. Kemudian guru akan memilih siswa dengan jawaban yang belum tepat untuk menjelaskan jawabannya. Dari hal tersebut, guru akan memberikan konfirmasi jawaban yang tepat kepada siswa tersebut sehingga siswa lain akan memiliki pemahaman yang tepat berdasarkan konfirmasi guru.
D. 5 Langkah Pelaksanaan Cold Calling

Tiga strategi Cold Calling seperti Pre-call, Batched Cold-call dan Rehearse and Affirm harus dilaksanakan dengan mengikuti 5 langkah pelaksanaan Cold Calling. Langkah tersebut meliputi 1) penyajian pertanyaan, 2) pemberian waktu jeda untuk siswa berpikir, 3) penunjukan siswa untuk menjawab, 4) konfirmasi atau umpan balik dari guru, dan 5) perluasan pertanyaan untuk siswa selanjutnya.
Guru sebagai kunci dari keberhasilan metode Cold Calling harus memahami betul tentang langkah penggunaan metode Cold Calling. Menurut Doug Lemov, ada 5 langkah dalam metode Cold Calling, yaitu:
1. Guru memberikan instruksi pada siswa untuk memperhatikan dengan saksama pertanyaan yang akan diberikan.
2. Kemudian guru memberikan waktu jeda bagi siswa untuk memikirkan dan menyiapkan jawabannya dengan tepat.
3. Selanjutnya guru akan menunjuk siswa dengan spesifik (memanggil nama siswa) untuk mengemukakan jawabannya.
4. Guru memberikan umpan balik berdasarkan jawaban siswa tersebut.
5. Lebih lanjut, guru bisa mengembangkan diskusi dengan menggali pemahaman atas pertanyaan serupa maupun memberikan pertanyaan baru kepada siswa lain.
E. Kekuatan Metode Cold Calling
Jalannya kegiatan belajar mengajar dengan pelaksanaan langkah metode Cold Calling yang tepat dapat memberikan hasil yang maksimal. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, pelaksanaan metode Cold Calling secara tepat memiliki beberapa manfaat yang bisa dilihat dari beberapa aspek seperti di bawah ini:
1. Aspek waktu.
Pelaksanaan metode Cold Calling berdasarkan skema yang sudah dibuat dapat memenuhi alokasi waktu pembelajaran. Ketika skema tersebut dibuat berdasarkan data keadaan siswa saat mengikuti kegiatan belajar mengajar, guru dapat menentukan perangkat pembelajaran yang tepat (materi, soal-soal latihan, bahan diskusi, media pembelajaran, dll). Dari skema tersebut diharapkan pelaksanaan Cold Calling dapat berjalan sesuai alokasi waktu yang ditentukan.
2. Aspek media/ platform pembelajaran.
Pelaksanaan metode Cold Calling dapat digunakan pada kelas daring maupun luring selama guru dapat melaksanakan rencana pembelajaran yang sudah dibuat dengan menyesuaikan platform yang ada. Guru dapat memaksimalkan fitur-fitur pada platform di kelas daring seperti fitur chat pada Zoom agar pelaksanaan Cold Calling dapat berjalan maksimal.
3. Aspek partisipasi siswa.
Cold Calling yang dilakukan dengan maksimal dapat mendukung pengembangan keaktifan siswa. Melalui metode Cold Calling seluruh siswa diajak untuk berpartisipasi aktif dalam diskusi kelas. Tidak hanya siswa aktif maupun siswa dengan kognitif tinggi saja yang menjawab pertanyaan guru namun siswa yang pasif atau siswa yang memiliki kognitif rendah juga dapat berpartisipasi dalam pelaksanaan Cold Calling.
4. Aspek kolaborasi strategi pembelajaran.
Untuk mendukung tujuan pembelajaran dan memenuhi kebutuhan siswa, metode Cold Calling bisa digabungkan dengan metode pembelajaran lain. Ketika pembelajaran berlangsung, metode Cold Calling dapat digabungkan dengan model pembelajaran kolaboratif untuk mendukung siswa yang cenderung kurang aktif menjadi lebih aktif dengan stimulus dari temannya. Misalnya, jika di dalam kelas terdapat lebih banyak siswa yang pasif maka guru bisa menggabungkan metode Cold Calling dan Think-Pair-Share. Siswa yang aktif dapat dijadikan satu kelompok dengan siswa yang cenderung pasif. Hal tersebut dilakukan dengan harapan siswa pasif dapat terdorong untuk berpartisipasi dalam diskusi kelas sehingga pelaksanaan Cold Calling dapat berjalan lancar.
5. Aspek fokus siswa.
Cold Calling dilakukan dengan memanggil nama siswa dan kemudian memberikannya pertanyaan untuk dijawab. Siswa akan berusaha memperhatikan guru saat menjelaskan materi sehingga mereka dapat menjawab pertanyaan yang ada. Hal ini dapat meningkatkan tingkat fokus siswa.
F. Kelemahan Metode Cold Calling
Dalam pelaksanaannya, metode Cold Calling memiliki kemungkinan berjalan dengan tidak maksimal. Hal tersebut dapat terjadi karena beberapa aspek atau kondisi yang dapat muncul di lapangan. Aspek-aspek yang dapat menjadi kelemahan dalam pelaksanaan metode Cold Calling dijabarkan sebagai berikut:
1. Aspek inisiatif siswa
Dalam pelaksanaan Cold Calling guru akan memanggil siswa dan memberikannya pertanyaan. Hal tersebut bisa melatih siswa untuk menyampaikan pendapat namun di sisi lain, juga dapat membuat inisiatif siswa menjadi berkurang. Jika sebelum Cold Calling digunakan, biasanya beberapa siswa berusaha untuk berinisiatif menjawab pertanyaan dari guru namun dalam Cold Calling siswa menunggu giliran untuk dipanggil oleh guru. Hal ini bisa membuat siswa yang terbiasa aktif menjawab menjadi kurang berinisiatif.
2. Aspek antusiasme siswa
Seperti sudah dijelaskan sebelumnya Cold Calling bisa membuat inisiatif siswa menurun. Hal itu juga berdampak pada antusiasme siswa. Antusiasme siswa yang sebelumnya tergolong aktif menjadi berkurang karena mereka tidak bisa berinisiatif untuk menjawab pertanyaan sesuai keinginannya sendiri. Selain itu, akan ada kemungkinan muncul perasaan cemas dan khawatir pada diri siswa karena mereka akan selalu diminta untuk menjawab pertanyaan guru sehingga dapat mempengaruhi antusiasme siswa untuk menghadiri kelas.
G. Pendekatan dan Prosedur Metode Cold Calling
Untuk mengantisipasi kelemahan pelaksanaan metode Cold Calling yang mungkin muncul dalam pembelajaran, maka diperlukan approach & procedures (pendekatan dan prosedur) Cold Calling yang tepat. Hal tersebut juga diperlukan guru untuk menjadi pedoman yang pasti dalam melaksanakan Cold Calling agar penggunaan Cold Calling berjalan dengan efektif dan runtut sehingga pembelajaran dapat berjalan maksimal. Berikut ini adalah 10 langkah approach and procedures yang bisa dilakukan oleh guru dalam mempersiapkan pelaksanaan metode Cold Calling:
1. Menentukan tujuan penggunaan Cold Calling dalam pembelajaran.
Cold Calling adalah metode dalam pembelajaran yang dilakukan guru dengan memberikan pertanyaan kepada siswa yang dipilih. Melalui metode ini, semua siswa dapat berpartisipasi tanpa adanya dominasi dari siswa lain sehingga dapat membantu meningkatkan kemampuan komunikasi dan kepercayaan diri siswa. Guru perlu menentukan tujuan agar prosedur Cold Calling sesuai standar dan lebih terarah. Selain itu Cold Calling juga dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi yang sudah diberikan.
2. Memetakan dan mengelompokan kemampuan siswa.
Langkah ini meliputi pengumpulan data dan pengolahan informasi tentang keaktifan siswa (aktif/lumayan/pasif), kemampuan siswa dalam memahami instruksi, prior knowledge yang dimiliki siswa, serta kondisi siswa ketika menjawab pertanyaan dan berdiskusi di kelas. Hal ini dilakukan supaya kebutuhan siswa terhadap penerapan Cold Calling dapat dipenuhi.
3. Menentukan alokasi waktu yang tepat untuk pelaksanaan Cold Calling.
Waktu yang dirancang untuk pelaksanaan Cold Calling perlu diatur dengan tepat. Penentuan alokasi waktu bertujuan untuk menentukan jangka waktu proses Cold Calling dalam pembelajaran sehingga tujuan guru dapat tercapai. Misalnya, jika metode Cold Calling dilakukan dalam pembelajaran yang diatur dengan alokasi waktu 40 menit, masing-masing siswa diberi batas waktu 2 menit untuk menjawab pertanyaan sehingga semua siswa mempunyai kesempatan untuk menjawab.
4. Menentukan materi yang akan disampaikan ketika menerapkan Cold Calling.
Guru menentukan materi pembelajaran yang tepat dengan menimbang learning taget dan tujuan strategi penggunaan Cold Calling. Materi disesuaikan dengan data kognitif siswa seperti keaktifan, kemampuan memahami instruksi serta prior knowledge yang dimiliki untuk kemudian disesuaikan dengan alokasi waktu sehingga dapat tersampaikan dengan runtut.
5. Menentukan strategi pelaksanaan Cold Calling yang akan digunakan.
Ada 3 strategi dalam Cold Calling, yaitu Pre-call, Batched Cold-call, serta Rehearse and Affirm. Guru bisa memilih satu atau beberapa strategi pelaksanaan Cold Calling berdasarkan materi dan alokasi waktu yang sudah ditentukan. Misalnya, guru dapat menggunakan teknik Pre-call dan Batched Cold-call pada siswa untuk menjelaskan materi tentang kalimat utama dalam bacaan pada pembelajaran dengan alokasi waktu 40 menit sehingga seluruh siswa mendapatkan kesempatan untuk menjawab dan tujuan guru tercapai.
6. Merancang pertanyaan yang akan ditanyakan dalam Cold Calling.
Guru membuat rancangan daftar pertanyaan yang akan ditanyakan kepada siswa berdasarkan keaktifan dan tingkat pemahaman siswa sehingga pertanyaan bisa terarah. Pertanyaan dapat diberikan untuk mencari tahu pemahaman siswa yang memiliki tingkat kognitif tinggi setelah materi diberikan. Selain itu, guru juga bisa memberikan pertanyaan evaluasi materi untuk siswa yang memiliki kognitif rendah pada akhir pembelajaran. Langkah ini harus dipikirkan dengan hati-hati karena perlu memperhatikan prior knowledge yang dimiliki siswa. Pertanyaan dibuat dari yang sederhana menuju kompleks sehingga siswa dapat berpikir secara runtut.
7. Menentukan cara pelaksanaan Cold Calling.
Hal ini perlu dilakukan agar selain membuat pertanyaan guru lebih tepat dan terarah, juga dapat memenuhi tujuan Cold Calling. Ada beberapa pertimbangan untuk menentukan cara pelaksanaan Cold Calling, seperti tingkat kognitif siswa dan prior knowledge siswa. Misalnya, jika guru ingin memastikan tingkat pemahaman materi, guru bisa memberikan pertanyaan kepada siswa dengan tingkat kognitif tinggi terlebih dahulu dan memberikan konfirmasi atas jawaban yang diberikan agar siswa dengan kognitif rendah memiliki gambaran yang tepat tentang pemahaman materi yang diharapkan oleh guru.
8. Membuat dan melaksanakan skema pembelajaran berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Guru membuat skema pembelajaran berupa RPP dengan menuliskan detail informasi tentang materi pembelajaran, alokasi waktu, media pembelajaran, strategi pelaksanaan Cold Calling yang digunakan, pertanyaan yang akan disampaikan, rangkaian kegiatan selama pembelajaran. Kemudian, guru melakukan pembelajaran sesuai rencana pembelajaran yang sudah dibuat sebelumnya. Misal, agar learning target dan tujuan guru dapat tercapai dalam pembelajaran yang beralokasi waktu 40 menit, guru akan menyampaikan materi, melakukan strategi Pre-call dan Batched Cold-call untuk mengetahui pemahaman siswa dengan memanggil nama siswa berdasarkan tingkat keaktifan dan kognitif siswa kemudian memberi mereka pertanyaan.
9. Mengevaluasi hasil dari pembelajaran.
Evaluasi perlu dilakukan oleh guru dengan melibatkan siswa untuk memantau hasil jalannya pembelajaran. Dari hasil evaluasi tersebut, guru akan mengetahui apakah penggunaan strategi Cold Calling sudah berhasil mencapai tujuan atau belum. Jika guru menemukan hal-hal yang perlu diperbaiki seperti pertanyaan guru yang mempengaruhi tingkat respons siswa atau media yang dipakai dalam pembelajaran, maka guru bisa melakukan proses iterasi yang dibutuhkan.
10. Merencanakan perbaikan sebagai tindak lanjut dari hasil evaluasi.
Rencana perbaikan merupakan tindakan awal untuk menindaklanjuti hasil evaluasi pembelajaran belum sesuai dengan tujuan yang telah dibuat. Misalnya, guru mengubah strategi yang sebelumnya digunakan ketika Cold Calling dengan strategi Cold Calling yang lain. Guru juga memungkinkan untuk mengubah daftar pertanyaan yang akan ditanyakan pada siswa agar lebih terarah, membuat latihan soal untuk siswa dengan lebih tepat, dll.





