Memahami English Competency Test dengan Design Thinking (1)

Artikel Belajar Proses Design Thinking

Seiring dengan meningkatnya kemajuan zaman yang semakin terbuka di setiap aspek kehidupan serta interdependensi antarnegara di seluruh dunia, bahasa Inggris bukan lagi bahasa negara-negara dimana bahasa tersebut digunakan sebagai bahasa pertama (English as the First Language) seperti misalnya Amerika Serikat, Selandia Baru dan Inggris Raya tetapi juga merupakan bahasa di banyak negara di dunia dalam posisinya sebagai lingua franca (bahasa pengantar) global.

Penggunaan bahasa Inggris di India, Malaysia, dan Singapura telah diakui oleh pemerintah masing-masing negara dengan menjadikan bahasa Inggris sebagai salah satu bahasa pengantar utama di bidang pendidikan, kepariwisataan, pemerintahan, politik dan bisnis. Ini menunjukkan bahwa bahasa Inggris telah menempati posisi penting dalam dunia Internasional. Seperti halnya negara tetangga, pemerintah Indonesia pun memutuskan untuk menempatkan bahasa Inggris pada posisi yang sama agar dapat berperan lebih besar pada tataran internasional dalam bidang ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, teknologi serta budaya. Hal ini dapat dilakukan apabila pemerintah melalui institusi pendidikan mulai menumbuhkan, melatih serta memfasilitasi keinginan siswa dalam mengenal bahasa Inggris agar dapat menggunakannya sehari-hari dengan lancar dan benar.

Focus Independent School (FIS) merupakan institusi pendidikan (national plus school) yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar utama dalam aktivitas belajar sehari-hari. Ini karena FIS ingin berperan serta secara aktif dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan menyiapkan generasi muda yang dapat menjawab tantangan zaman tanpa kendala bahasa. Di FIS, siswa belajar bahasa Inggris secara berkesinambungan sejak kelas 1 di tingkat primary. Sekolah menggunakan buku-buku dari Singapura serta memberikan guidance dalam menggunakannya secara benar dalam komunikasi sehari-hari. Selain itu, guru pengampu mata pelajaran bahasa Inggris memiliki kompetensi dalam bidangnya.

FIS melaksanakan English Competency Test untuk siswa Primary 6 sebagai salah satu syarat agar dapat diterima di level Secondary. Selain itu, Competency Test ini penting untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam memahami dan mengaplikasikan pengetahuan dasar bahasa Inggris secara tertulis. Competency Test yang diberikan meliputi listeningreading dan writing. Akan tetapi, hasil tes yang ada belum sepenuhnya mencapai target yang ditetapkan dan bahkan ada beberapa siswa yang memerlukan bridging untuk menguatkan pengetahuan dasarnya. Kami berkesempatan menganalisa data dan mencaritahu kebutuhan siswa untuk mencapai target yang ditentukan. Metode design thinking kami pilih sebagai framework untuk mendalami permasalahan serta berusaha membantu menemukan solusi yang terbaik.

Design Thinking merupakan metode yang mengedepankan pendekatan langsung kepada pemakai (human-centered approach). Metode ini mengandalkan kemampuan desainer untuk menggunakan intuisi dan empati, memahami pola serta menciptakan ide kreatif yang bermakna sekaligus bermanfaat bagi pengguna (user). Selain itu, desainer ditantang untuk benar-benar memahami pengguna sehingga proses mencari tahu dan memahami kebutuhan pemakai merupakan hal yang sangat fundamentalDesign thinking memiliki lima fase yang terdiri dari empathize, define, ideate, prototype, dan test.

English Competency Test ini diikuti oleh 46 siswa kelas 6 SD Focus Independent School tahun ajaran 2018-2019 pada tanggal 1 November 2018. Kami mengambil 28 hasil tes tersebut sebagai sampel analisis data. Sebagai guideline, kami merumuskan 3 pertanyaan untuk menemukan masalah dasar yang dihadapi oleh siswa, yaitu:

  1. Apa kesalahan yang jarang dilakukan oleh siswa?
  2. Apa kesalahan yang sering dilakukan oleh siswa?
  3. Bagaimana siswa menemukan informasi tersirat berdasarkan teks bacaan?

Siswa SD Focus Independent School mengenal dan menggunakan bahasa Inggris secara intensif dari kelas 1. Mereka pun sudah belajar tentang tata bahasa yang diajarkan secara berkesinambungan. Di upper level (kelas 4-6), siswa memperdalam kemampuannya dalam menguasai bahasa Inggris melalui latihan tertulis dan penggunaanya dalam komunikasi sehari-hari di sekolah. Siswa mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapi English Competency Test. Namun demikian, siswa mengalami sedikit kesulitan tentang materi apa saja yang harus dipelajari karena tidak mendapatkan batasan materi tes.

Hasil tes menunjukkan bahwa sebagian besar siswa kompeten dalam mengerjakan soal listening. Hal ini diperkuat dengan penuturan siswa yang menyatakan listening section adalah bagian paling mudah di English Competency Test. Selain itu, mereka tidak mengalami kesulitan dalam menemukan informasi tersurat karena mudah menemukan di bacaan.

Berdasarkan hasil tes dan wawancara, kami mengidentifikasi bahwa siswa paling sering melakukan kesalahan pada bagian penguasaan kosa kata (vocabularies) dan mengurutkan kalimat menjadi paragraf. Hal ini terjadi karena minimnya perbendaharaan kata yang dikuasai. Sedangkan dalam mengurutkan kalimat menjadi paragraf, mereka berpendapat bahwa ada kata kunci yang mengecohkan pemahaman mereka, seperti kata one day. Mereka berfikir bahwa one day selalu dipakai di awal paragraf. Adapun tentang mencari informasi tersirat, kelemahan mereka adalah kurangnya motivasi dalam membaca dan memahami bacaan. Hal ini berkaitan juga dengan kurangnya minat baca dalam keseharian mereka. Karena tidak mau memahami bacaan dengan benar, siswa pun cenderung untuk menebak jawaban. Selain hal tersebut di atas, siswa juga masih perlu banyak berlatih tentang tata bahasa (grammar).

Dari temuan tersebut, ada kemungkinan performa siswa kurang maksimal dipengaruhi oleh kurangnya minat baca. Hipotesa kami ini didukung oleh perbandingan hasil performa siswa yang memiliki minat baca lebih tinggi dengan yang kurang. Siswa yang gemar membaca, mampu meraih target yang ditetapkan, terutama pada reading section.

Informasi yang kami peroleh di atas, mendorong kami untuk mencoba menerapkan metode design thinking dalam memetakan masalah dan memberikan solusi terbaik sehingga siswa bisa mencapai target yang ditetapkan untuk English Competency Test.

Design thinking merupakan metode yang mengedepankan pendekatan langsung kepada pemakai (human-centered approach). Metode ini mengandalkan kemampuan desainer untuk menggunakan intuisi dan empati, memahami pola serta menciptakan ide kreatif yang bermakna sekaligus bermanfaat bagi pengguna (user). Selain itu, desainer ditantang untuk benar-benar memahami pengguna sehingga proses mencari tahu dan memahami kebutuhan pemakai merupakan hal yang sangat fundamental. Design thinking memiliki lima fase yang terdiri dari empathize, define, ideate, prototype, dan test.

Berkaitan dengan permasalahan diatas, kami membuat framework design thinking dengan mengikuti pola sebagai berikut :

Design thinking merupakan metode yang efektif untuk mencari tahu titik permasalahan, kebutuhan dasar serta solusi unik dan kreatif dengan mengedepankan kebutuhan pengguna. Pada akhirnya, design thinking adalah mindset yang menantang desainer untuk selalu berkreasi dan berinovasi. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s