Masalah Muncul, Masalah Dirumuskan (2)

Artikel Belajar Proses Design Thinking

Merujuk pada hasil observasi dan wawancara serta empathy map yang diperoleh dalam fase empathy, maka kami masuk ke fase kedua dalam design thinking yaitu define. Dalam fase define, desainer merumuskan defined problem statement (DPS) dengan mempertimbangkan kebutuhan pengguna (guru dan siswa). Dalam hal ini, kami merumuskan DPS sebagai berikut: “siswa membutuhkan suatu kegiatan untuk meningkatkan minat baca dan kemampuan dalam memahami bacaan sebagai sarana mempersiapkan siswa untuk mencapai target English Competency Test (ECT).”

Mengapa kegiatan membaca dan keterampilan memahami bacaan (reading comprehension) memberi pengaruh besar pada kemampuan siswa dalam mencapai target ECT yang ditetapkan? Sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita melihat sejenak esensi dari membaca. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, membaca adalah melihat dan memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati). Ketika membaca, kita menggunakan mata untuk menangkap makna simbol tertulis (huruf, tanda baca, dan spasi), lalu otak memprosesnya sehingga pembaca mampu memperoleh informasi. Kemampuan memahami bacaan merupakan keterampilan fundamental yang perlu untuk dikuasai bagi mereka yang belajar bahasa, termasuk juga belajar bahasa Inggris. Ketika kemampuan membaca kita meningkat, maka kemampuan berbahasa yang lain pun juga meningkat.

Berikut adalah beberapa alasan mengapa memperkuat kemampuan membaca adalah penting, terutama berkaitan dengan pembelajaran bahasa Inggris :

  • Pengulangan kata dan pola yang berulang dalam satu bacaan akan membantu kita untuk mengingat dan memahami kosakata (vocabulary) dan tata bahasa (grammar structures).
  • Membaca merupakan cara terbaik untuk belajar dan memahami ejaan kata dengan benar.
  • Membaca akan membuat kita terbiasa dengan tata bahasa dalam bahasa Inggris. Seiring dengan waktu, proses belajar akan terjadi secara langsung dan tanpa sadar kita akan paham ketika ada kalimat ataupun frase yang kurang tepat.
  • Keterampilan dalam memahami bacaan yang kuat dapat meningkatkan keterampilan bahasa lainnya (mendengarkan, berbicara, menulis) karena kita harus belajar membaca sebelum dapat menulis.
  • Membaca akan meningkatkan kemampuan kita dalam berimajinasi. Dengan membaca, kreatifitas kita akan meningkat serta dapat membawa gambaran dalam kisah yang kita baca menjadi hidup. Kemampuan berimajinasi berdasarkan materi bacaan sangatlah penting. Hal tersebut digunakan untuk melihat seberapa dalam kita memahami apa yang sedang kita baca dan mencari makna tersirat yang diperlukan.

Dari penjelasan di atas, keterampilan membaca tidak bisa dilepaskan dari keterampilan memahami bacaan (reading comprehension), yaitu kemampuan pembaca untuk memahami makna tersurat dan tersirat dari suatu bacaan. Pembaca yang baik tahu benar apa yang dia baca dan apa yang ingin dia raih dari bacaan tersebut. Keterampilan memahami bacaan juga merupakan suatu proses dimana pembaca berusaha untuk membangun persepsi atau sudut pandang yang bermakna melalui berbagai cara, seperti misalnya mengaktifkan pengetahuan dasar (background knowledge), membuat prediksi, menarik kesimpulan, merancang pertanyaan yang berkaitan dengan tema bacaan serta menyusun ringkasan.

Ada 7 (tujuh) strategi yang bisa digunakan sebagai kriteria kesuksesan siswa dalam meningkatkan kemampuan membaca dan memahami bacaan terutama dalam bahasa Inggris, yaitu:

  1. Memonitor Pemahaman (Monitoring Comprehension). Siswa diminta untuk menulis jurnal atau catatan yang berfungsi sebagai data agar mereka mengetahui sejauh mana kemajuan yang dibuat.
  2. Memvisualisasikan (Visualizing). Siswa dilatih untuk membangun imajinasi berdasarkan tema bacaan, sehingga siswa mendapatkan gambaran tentang latar belakang yang benar.
  3. Menghubungkan (Connecting). Siswa didampingi untuk mengidentifikasi dan menghubungkan apa yang mereka dapatkan pada bacaan dengan pengalaman pribadi dan lingkungan sekitar.
  4. Membuat Pertanyaan (Questioning). Siswa diminta untuk secara aktif menyusun pertanyaan berdasarkan informasi yang mereka dapatkan dari bacaan agar imajinasi mereka terus berkembang.
  5. Menyimpulkan (Inferring). Siswa dibiasakan untuk membuat prediksi, hipotesa, menginterpretasikan serta menyusun kesimpulan berdasarkan bacaan.
  6. Menentukan Mutu Bacaan (Determine Importance). Siswa dibimbing untuk menilai apakah suatu bacaan memiliki mutu yang baik sesuai jenisnya serta ditulis dengan benar oleh pengarangnya.
  7. Mengintegrasikan (Synthesizing).
  8. Siswa dibimbing untuk menceritakan kembali atau membuat ringkasan materi bacaan dan mengingat informasi yang diperoleh. Hal ini bisa dikembangkan dengan menggunakan peta konsep atau bagan alur.

Strategi di atas merupakan tahapan (stage) yang dilakukan oleh pembaca dari tingkat yang paling sederhana atau mudah menuju kompleks. Jika dihubungkan dengan Bloom’s taxonomy Pyramid, strategi ini akan tampak sebagai berikut :

Kemampuan membaca bukan merupakan suatu bakat, melainkan keterampilan yang didapat melalui pembiasaan. Pada awalnya, siswa akan menemukan tantangan dalam melakukan strategi tersebut diatas. Akan tetapi, dengan latihan yang berkesinambungan dibawah bimbingan guru, maka siswa pasti dapat memupuk keterampilan memahami bacaan dengan benar. Hal ini akan memberi dasar yang kuat dalam menguasai salah satu keterampilan berbahasa, yaitu membaca. Apabila siswa memiliki keterampilan ini maka mereka pasti mampu meraih target yang ditetapkan dalam English Competency Test.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s