Eksplorasi Ide (3)

Artikel Belajar Proses Design Thinking

Setelah melewati fase empathy dan define, kini saatnya kami melangkah ke fase yang ketiga, yaitu ideate. Di dalam fase ini, kami selaku desainer akan menggunakan kemampuan untuk mencari ide-ide yang dapat menjadi solusi. Disinilah kreatifitas dan keterampilan kami ditantang untuk mewujudkan jalan keluar yang out of the box serta unik tapi tetap berpijak pada keselarasan rasa.

Di fase define sebelumnya, kami merumuskan DPS yaitu siswa membutuhkan suatu kegiatan yang dirancang oleh guru untuk meningkatkan minat baca dan kemampuan dalam memahami bacaan sebagai sarana mempersiapkan siswa dalam mencapai target English Competency Test (ECT). Berdasarkan DPS tersebut diatas, kami bekerja untuk mencari ide yang bisa menjawab kebutuhan yang sesungguhnya.

Salah satu strategi kami adalah mencaritahu target yang ditetapkan oleh Cambridge sehubungan dengan ECT dan menitikberatkan pada reading comprehension. Berdasarkan data yang kami peroleh dari Mr.Renato, FIS LipCo English Program, target yang ditetapkan adalah sebagai berikut :

  • Siswa dapat meningkatkan kemampuan logika berpikirnya.
  • Siswa dapat memahami isi bacaan melalui teknik skimming (membaca cepat) dan scanning (membaca cermat).
  • Siswa dapat memahami alur cerita, penokohan, sudut pandang, tema serta ide pokok yang tertuang pada teks.
  • Siswa dapat mengidentifikasi informasi tersirat dan tersurat yang terdapat pada bacaan.
  • Siswa dapat menjelaskan, menanggapi dan menganalisa gaya penulisan pengarang melalui teknik membaca.
  • Siswa dapat memperkuat kemampuan tata bahasa melalui keterampilan memahami bacaan.

Siswa akan mampu mencapai sasaran tersebut diatas apabila terjadi keselarasan langkah antara kegiatan yang dirancang oleh guru bahasa Inggris kelas 6 dengan target yang ditetapkan. Untuk mengetahui sejauh mana siswa disiapkan untuk mengikuti ECT, maka kami menghubungi MsRiska selaku guru pengampu pelajaran bahasa Inggris kelas 6. Dari beliau, kami mengetahui kegiatan yang disusun berkaitan dengan pembelajaran reading comprehension. Data yang kami peroleh adalah sebagai berikut :

  • Video dan audio tanpa subtitle (terjemahan) digunakan untuk menstimulus siswa dalam memahami bacaan.
  • Memberikan worksheet (lembar kerja) dalam bentuk fill in the blank (isian singkat) yang berisi pertanyaan berdasarkan teks yang terlampir.
  • Mengidentifikasi struktur teks dan unsur-unsurnya.
  • Memberikan latihan berupa jumbled paragraph (paragraf acak).

Model latihan yang digunakan oleh Ms Riska adalah membuat rangkuman (summarizing), mengidentifikasi teks (identifying text), mengurutkan paragraf acak (arranging jumble paragraph), isian singkat (fill in the blank), mecocokan informasi (matching) dan menulis karangan singkat (essay). Berdasarkan hasil latihan serta observasi, Ms Riska memetakan kekuatan dan kelemahan siswa.

Ms Riska memahami bahwa kemampuan siswa dalam memahami bacaan memiliki keterkaitan dengan pencapaian target ECT. Oleh sebab itu, beliau melatih siswa agar keterampilan itu terasah. Teknik yang dilakukan untuk menarik minat baca siswa yaitu :

  1. Memilih bacaan dengan tema yang menarik minat siswa.
  2. Memastikan diksi dalam bacaan tersebut sesuai dengan tingkat kemampuan siswa yang tingkat kesulitannya akan bertambah sesuai target.
  3. Menggunakan media seperti audio, video dan games tanpa subtittle.
  4. Memberikan panduan tata cara merangkum bacaan yang sistematis serta melatih siswa untuk mengaplikasikannya sesuai dengan tingkat kesulitan bacaan yang terus bertambah.

Setelah mempelajari target Cambridge serta teknik yang telah diaplikasikan oleh Ms Riska, kami menyimpulkan bahwa :

  • Penggunaan video dan audio sebagai media untuk kegiatan pembelajaran reading kurang sesuai dengan target yang diharapkan. Media tersebut lebih sesuai untuk digunakan dalam proses brainstorming diawal kegiatan pembelajaran untuk menarik minat siswa. Pemakaian video dikhawatirkan akan menyebabkan siswa berasumsi untuk mendapatkan informasi dari gambar tanpa perlu memahami bacaan. Sedangkan audio menyebabkan siswa menjadi tidak mandiri untuk mencari informasi dengan membaca, karena mereka mengandalkan indera pendengaran.
  • Belum ada pembiasaan membaca yang konsisten dan kontinyu di kelas 6. Pembiasaan membaca yang terstruktur berdasarkan 7 strategi membaca yang kami sampaikan di artikel sebelumnya penting untuk dilakukan dalam membangun kemampuan dasar membaca yang kuat.

Setelah siswa terbiasa membaca, kemampuan memahami bacaan pun harus diasah. Dalam artikel sebelumnya, kami sudah merangkumkan 7 strategi dalam meningkatkan kemampuan membaca dan memahami bacaan.  Strategi tersebut antara lain:

  1. Memonitor Pemahaman (Monitoring Comprehension)
  2. Memvisualisasikan (Visualizing)
  3. Menghubungkan (Connecting)
  4. Membuat Pertanyaan (Questioning)
  5. Menyimpulkan (Inferring)
  6. Menentukan Mutu Bacaan (Determine Importance)
  7. Mengintegrasikan (Synthesizing)

Data-data tersebut di atas akan menjadi dasar kami dalam merancang guideline kegiatan membaca di Primary 6.

Sumber:

Steven Zemelman, Harvey “Smokey” Daniels, dan Arthur Hyde, Best Practice, Fourth Edition, diambil dari https://medium.com/@heinemann, 28 Juli 2016

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s