Mungkinkah Memperkenalkan Design Thinking Melalui Kegiatan Drama, Olahraga dan Arts? (2)

Design Thinking for Kids

Ada hubungan memikat antara perkembangan kognitif anak dengan cara memperkenalkan konsep design thinking pada anak-anak, khususnya usia 6-8 tahun. Anak-anak pada usia ini memiliki imajinasi yang sudah berkembang baik, memiliki perkembangan bahasa yang lebih baik, dan memiliki perkembangan gross motorik yang maju. Dengan demikian, apabila digunakan cara memperkenalkan konsep design thinking melalui kegiatan drama (mewakili perkembangan bahasa), kegiatan arts (mewakili perkembangan imajinasi), dan kegiatan olahraga (mewakili perkembangan gross motorik) kemungkinannya besar. Untuk menguji kemungkinan ini, akan digunakan metode design thinking. Nantinya akan ada 5 fase yang harus dijalani, yaitu empathize, define, ideate, prototype dan test.

Pada fase pertama design thinking, yaitu fase empathize, akan dicari pendapat anak-anak tentang kegiatan drama, kegiatan arts, dan kegiatan olahraga. Selain itu dicari pula kebutuhan anak terhadap 3 kegiatan tersebut. Setelah data-data diperoleh, dibuatlah empathy map. Empathy map adalah kwadran yang menggambarkan apa yang dikatakan, dilakukan, dipikirkan, dan dirasakan oleh anak-anak.

Sesuai pengertiannya, sekolah adalah suatu lembaga pendidikan yang dirancang secara khusus untuk mendidik murid-murid dimana kegiatan belajar mengajarnya harus mengikuti berbagai aturan yang telah dirancang. Oleh sebab itu apabila design thinking diterapkan di sekolah maka ada aturan yang mengikuti. Aturan itu disebut DTS (Design Thinking Standard). DTS adalah standar yang digunakan untuk merancang suatu proyek design thinking di dalam kelas. DTS akan memberikan panduan tentang tujuan pembelajaran. Ada 3 komponen dalam DTS yaitu design practices (skills that students will be able to do), core design ideas (knowledge that students will understand), dan design mindsets (set of attitudes essential for effective application of design thinking).

Kembali kepada kemungkinan memperkenalkan design thinking pada anak usia 6-8 tahun melalui kegiatan drama, kegiatan arts dan kegiatan olahraga, maka setelah dilakukan pembuatan empathy map, langkah selanjutnya adalah menghubungkannya dengan DTS yang sesuai dengan kebutuhan siswa.

Grafik dibawah ini adalah data empathy map yang disandingkan dengan DTS (Design Thinking Standard).Responden untuk pencarian data ini adalah anak-anak usia 6-8 tahun yang bersekolah di Focus Independent School.

Drama. Ketika anak-anak diberi tugas kelompok bermain drama, anak-anak (sedikit banyak) memahami apa yang harus dilakukan saat melakukan kegiatan drama. Anak-anak tahu di dalam drama, ada yang menjadi pemeran utama, ada penontonnya, ada tariannya dan ada ceritanya. Pengetahuan anak-anak tentang beberapa unsur drama tersebut didapatkan dari pengalaman mereka saat tampil di panggung dalam kegiatan Project Performance di sekolah. Ternyata anak-anak memiliki kesadaran bahwa bermain drama tidak mudah dilakukan. Mereka harus menghapalkan cerita dan tidak boleh gugup saat tampil.

Berolahraga (PE). Anak-anak usia 6 – 8 tahun sangat menyukai olahraga. Ini salah satu aktivitas outdoor yang dinantikan anak-anak. Menurut mereka, olaharaga tidak selalu harus dilakukan saat ada pelajaran olahraga. Saat break time, mereka bisa berolahraga. Misalnya lari-lari, lompat-lompat, berkejar-kejaran dan bermain bola. (Bermain bola dijadikan sample sebagai kegiatan olahraga dalam pencarian data kegiatan olahraga. Alasannya dalam bermain bola ada berbagai aktivitas yang sesuai dengan perkembangan fisik anak pada usia ini yaitu melempar, menggiring dan menendang). Bermain bola sangat digemari oleh anak-anak. Mereka mampu menceritakan dengan detail tindakan bermain bola. Mereka melempar bola, menggiring bola, menendang bola, hingga mencetak gol. Saat melakukan aktivitas ini, ekspresi wajah mereka sangat senang. Pemain yang bisa mencetak gol akan diberi tepuk tangan meriah oleh kawan-kawannya. Anak-anak pada usia ini memiliki sedikit pengetahuan soal aturan permainan sepak bola.

Arts. Pada kegiatan arts anak-anak menyukai gambar yang penuh warna. Mereka juga sangat suka mendapat pujian apabila hasil karya mereka bagus dan ditiru banyak anak. Kegiatan arts diisi membuat sket, mewarnai, dan mencampur warna. Guru Arts tidak selalu membebaskan anak menggambar dan mewarnai sesuka hati mereka, namun terkadang harus mengikuti instruksi yang diberikan guru arts. *** (berlanjut pada artikel berikutnya).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s