Fase Ideate dalam Design Thinking (3)

Meskipun design thinking bisa digunakan untuk berbagai bidang, namun design thinking in the classroom memiliki standar yang berbeda dengan design thinking untuk industri. Design Thinking untuk pendidikan memililiki standar yang disebut DTS (Design Thinking Standard), yang dibuat oleh David Lie. Namanya saja design thinking standard, maka guru harus memenuhi standard yang sudah ditetapkan dalam DTS. DTS meliputi 3 hal, yaitu design practice, core design ideas, dan design mindset.

Contoh DTS untuk “pengajaran sejarah pahlawan monoton”

  1. Design Practice : Siswa diharapkan memiliki kemampuan menyebutkan sikap-sikap pahlawan.
  2. Core Design : Siswa diharapkan memiliki pemahaman tentang peristiwa sejarah kepahlawanan di Indonesia.
  3. Design Mindset : Siswa diharapkan memiliki dan mampu menerapkan sikap yang dimiliki pahlawan.

Berdasarkan DTS, DPS dan penerapan fase ideate, (dimana designer harus menghadirkan solusi), beberapa solusi yang memungkinkan untuk memecahkan masalah pengajaran sejarah pahlawan yang monoton adalah sebagai berikut:

  1. Solusi pertama adalah penggunaan gameGame bisa menjadi salah satu cara yang digunakan oleh guru agar pelajaran sejarah pahlawan tidak membosankan. Penggunaan game juga dapat membantu siswa memiliki dan menerapkan sikap pahlawan. Game  tersebut bisa digunakan untuk review  setelah selesai pembelajaran. Prosedurnya, setelah guru menjelaskan materi tentang sejarah pahlawan, siswa diajak untuk bermain gametanya jawab yang berhubungan dengan materi yang telah disampaikan dengan tujuan untuk review. Melalui game, siswa juga dapat menyebutkan kembali nilai-nilai kepahlawanan, namun terkadang penggunaan game kurang tepat karena beberapa murid hanya terfokus pada game saja dan kehilangan pengetahuan sejarah sehingga hanya perasaan senang saja yang di dapatkan oleh siswa. 
  2. Solusi kedua adalah penggunaan media visual yaitu video. Dijelaskn bahwa siswa lebih tertarik melihat media visual dibanding mendengarkan ceramah guru. Penggunaan cvideo sangatlah praktis dan penuh dengan visual. Guru hanya perlu mencari video di situs internet yang berkaitan dengan materi pelajaran. Selain mudah dicari dan praktis, video juga dapat memenuhi kriteria core design ideas, dimana siswa memiliki pengetahuan tentang sejarah pahlawan dan mereka dapat memahami peristiwa kepahlawanan yang ada di Indonesia. Dalam pembelajaran, guru mengarahkan siswa untuk memperhatikan video yang akan ditunjukkan. Kemudian guru menunjukkan video yang menceritakan sejarah pahlawan. Setelah itu guru menjelaskan dan menjabarkan sejarah pahlawan yang ada dalam video yang telah ditampilkan. Namun dibalik itu ada satu kekuranganya yaitu siswa kurang dapat menerapkan sikap-sikap pahlawan dalam kehidupan sehari-hari karena hal itu juga tergantung dari video yang ditunjukkan. Apakah video tersebut lengkap atau tidak, apakah video tersebut membosankan atau tidak, apakah pesan dari video tersebut tersampaikan atau tidak. 
  3. Solusi ketiga adalah dengan penggunaan infografis. Infografis adalah media untuk memberikan informasi secara singkat, padat, dan jelas yang divisualisasikan melalui gambar atau simbol yang disertai dengan narasi singkat. Infografis juga dapat memuat tentang informasi penting dari materi sejarah pahlawan. Infografis bisa digunakan sebagai sebagai cara baru untuk mencatat materi. Dengan infografis yang menarik, pelajaran sejarah pahlawan akan menjadi lebih modern, tidak monoton, dan informasi yang disampaikan akan lebih mudah dipahami karena pembelajaran dengan menggunakan infografis memerlukan waktu yang lebih singkat untuk memahami informasi atau materi yang disampaikan. Guru bisa memberikan infografis di awal atau di akhir pembelajaran. Infografis yang diberikan di awal pembelajaran bisa dijadikan sebagai arahan untuk siswa dalam mempelajari materi sejarah pahlawan, sedangkan infografis yang diberikan di akhir pembelajaran dapat dijadikan sebagai rangkuman dari materi sejarah pahlawan yang telah disampaikan sebagai bentuk konfirmasi. Penggunaan infografis sudah memenuhi 4 unsur utama pembelajaran yaitu mencari informasi, memahami informasi, menggunakan informasi dan memanfaatkan informasi. Infografis sangat menantang guru untuk melakukan tindakan design thinking. Dalam pembuatan infografis ada pengumpulan data, perumusan masalah, dan pemaparan ide-ide dalam bentuk visual dan teks. Hal ini sangat baik karena guru akan berperan aktif memandu anak-anak melakukan 4 kegiatan utama pemberlajaran. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s