Category: FISLC

Melatih Problem Solving Melalui Story Problems (2)

Story Problem. Selama ini kita mengenal story problem dalam matematika. Story Problem berfungsi sebagai kendaraan penting untuk menghubungkan matematika dengan pengalaman sehari-hari. Dalam story problem anak akan belajar konteks, bahasa dan angka-angka. Beberapa panduan penting untuk mengerjakan story problem ditulis dengan hati-hati oleh guru matematika. Langkah hati-hati tersebut memang disengaja supaya anak terbiasa berpikir runtut langkah demi langkah. Sebab dalam story problem ada “pesan tersembunyi” yang disampaikan dan harus diselesaikan. Sebetulnya, konsep story problem bisa digunakan dalam berbagai kebutuhan dan kepentingan. Jadi tidak melulu untuk kepentingan belajar matematika. Belajar problem solving melalui story problem sangat berguna. Sama pentingnya dengan kita belajar matematika. Bila kita mahir problem solving akan membantu kita mendapatkan jawaban di dunia nyata. Artinya problem solving yang kita pelajari berguna jika kita bisa menerapkannya.

Continue reading “Melatih Problem Solving Melalui Story Problems (2)”

Story Problems & Design Thinking for Kids (3)

Design Thinking perlu diperkenalkan pada anak-anak usia 8 -12 tahun sebagai aplikasi dari stimulasi problem solving yang dianjurkan oleh Piaget. Hasil akhir dari design thinking adalah menemukan solusi suatu permasalahan. Hal ini selaras dengan problem solving dimana masalah harus diselesaikan. Proses design thinking dilakukan secara bertahap, runtut dan berulang. Pola bertahap, runtut dan berulang akan melatih anak memiliki cara berpikir sistematis. Cara berpikir sistematis sangat diperlukan anak-anak untuk menghadapi kehidupan abad 21.

Continue reading “Story Problems & Design Thinking for Kids (3)”

KOTA MESSIVILLE (4)

KOTA MESSIVILLE

Kota Messiville terletak di luar planet bumi yang dihuni oleh 40 orang penduduk dengan jenis kelamin dan karakter yang berbeda. Kondisi Kota Messiville yang awalnya aman, tenteram, dan sejahtera, tiba-tiba menjadi penuh kekacauan karena kemudahan-kemudahan serta kebiasaan penduduk yang kelewat enak. Selain itu, perbedaan karakter dan sifat aneh-aneh penduduk Kota Messiville menambah panjang daftar kekacauan yang terjadi di kota tersebut. Seluruh penduduk Kota Messiville tidak memiliki keinginan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang timbul. Bahkan pimpinan kota yang bernama Sulthanos pun tidak memiliki keinginan untuk menuntaskan masalah di Kota Messiville. Meskipun demikian, Sulthanos tahu bahwa permasalahan yang terjadi di Kota Messiville terbagi menjadi 8 area kerja, yaitu komunikasi, transportasi, kesehatan, gizi, energi, lingkungan, keamanan, dan pendidikan. Melihat kekacauan yang makin lama makin mencekam, membuat Agen G5S yang memiliki keahlian di bidang design thinking datang ke Kota Messiville untuk membantu menyelesaikan masalah. Continue reading “KOTA MESSIVILLE (4)”

Memahami English Competency Test dengan Design Thinking (1)

Artikel Belajar Proses Design Thinking

Seiring dengan meningkatnya kemajuan zaman yang semakin terbuka di setiap aspek kehidupan serta interdependensi antarnegara di seluruh dunia, bahasa Inggris bukan lagi bahasa negara-negara dimana bahasa tersebut digunakan sebagai bahasa pertama (English as the First Language) seperti misalnya Amerika Serikat, Selandia Baru dan Inggris Raya tetapi juga merupakan bahasa di banyak negara di dunia dalam posisinya sebagai lingua franca (bahasa pengantar) global.

Continue reading “Memahami English Competency Test dengan Design Thinking (1)”

Masalah Muncul, Masalah Dirumuskan (2)

Artikel Belajar Proses Design Thinking

Merujuk pada hasil observasi dan wawancara serta empathy map yang diperoleh dalam fase empathy, maka kami masuk ke fase kedua dalam design thinking yaitu define. Dalam fase define, desainer merumuskan defined problem statement (DPS) dengan mempertimbangkan kebutuhan pengguna (guru dan siswa). Dalam hal ini, kami merumuskan DPS sebagai berikut: “siswa membutuhkan suatu kegiatan untuk meningkatkan minat baca dan kemampuan dalam memahami bacaan sebagai sarana mempersiapkan siswa untuk mencapai target English Competency Test (ECT).”

Continue reading “Masalah Muncul, Masalah Dirumuskan (2)”

Eksplorasi Ide (3)

Artikel Belajar Proses Design Thinking

Setelah melewati fase empathy dan define, kini saatnya kami melangkah ke fase yang ketiga, yaitu ideate. Di dalam fase ini, kami selaku desainer akan menggunakan kemampuan untuk mencari ide-ide yang dapat menjadi solusi. Disinilah kreatifitas dan keterampilan kami ditantang untuk mewujudkan jalan keluar yang out of the box serta unik tapi tetap berpijak pada keselarasan rasa.

Continue reading “Eksplorasi Ide (3)”

Rancangan Model Kegiatan (4)

Artikel Belajar Proses Design Thinking

Dalam artikel sebelumnya, disebutkan bahwa kegiatan membaca adalah suatu pembiasaan yang pada akhirnya akan meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami bacaan secara mendalam. Ketika siswa memiliki kemampuan ini, maka mereka tidak akan menemui kesulitan yang berarti saat dihadapkan pada tes tertulis, termasuk memahami instruksi dan pertanyaan yang diberikan. Selain itu, kemampuan menulis siswa pun juga akan berkembang seiring meningkatnya kemampuan dalam memahami bacaan. Berdasarkan Bloom’s Taxonomy, siswa perlu dilatih untuk memiliki konsep berpikir dari tingkat yang paling sederhana atau mudah menuju kompleks. Rancang kegiatan membaca untuk melatih konsep berpikir siswa dapat melalui langkah-langkah sebagai berikut: Continue reading “Rancangan Model Kegiatan (4)”

Penting Memperkenalkan Design Thinking pada Anak Usia 6 – 8 Tahun. (1)

Design Thinking for Kids

Kita dapat merasakan akhir-akhir ini zaman telah banyak berubah. Perubahannya sangat cepat dan dinamis sehingga mengubah kehidupan manusia. Berubahnya jaman tentunya diikuti oleh perubahan di berbagai bidang termasuk keahlian kita dalam memecahkan masalah. Keahlian memecahkan masalah ini akan kita gunakan sebagai persiapan menghadapi abad 21. Prediksinya, masalah yang muncul akan makin kompleks, rumit, dan bisa jadi sangat sulit dipecahkan. Oleh sebab itu, kita harus memiliki cara yang paling potensial supaya masalah bisa pecah dan menghasilkan solusi terbaik. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan metode design thinking.

Continue reading “Penting Memperkenalkan Design Thinking pada Anak Usia 6 – 8 Tahun. (1)”

Mungkinkah Memperkenalkan Design Thinking Melalui Kegiatan Drama, Olahraga dan Arts? (2)

Design Thinking for Kids

Ada hubungan memikat antara perkembangan kognitif anak dengan cara memperkenalkan konsep design thinking pada anak-anak, khususnya usia 6-8 tahun. Anak-anak pada usia ini memiliki imajinasi yang sudah berkembang baik, memiliki perkembangan bahasa yang lebih baik, dan memiliki perkembangan gross motorik yang maju. Dengan demikian, apabila digunakan cara memperkenalkan konsep design thinking melalui kegiatan drama (mewakili perkembangan bahasa), kegiatan arts (mewakili perkembangan imajinasi), dan kegiatan olahraga (mewakili perkembangan gross motorik) kemungkinannya besar. Untuk menguji kemungkinan ini, akan digunakan metode design thinking. Nantinya akan ada 5 fase yang harus dijalani, yaitu empathize, define, ideate, prototype dan test. Continue reading “Mungkinkah Memperkenalkan Design Thinking Melalui Kegiatan Drama, Olahraga dan Arts? (2)”