Category: Group3/TTCB3 Imajinasi

IMAJINASI: “Mengapa Guru perlu membuat Lesson Plan?

Mengapa guru membuat lesson plan? Jika guru tidak membuat lesson plan maka guru tesebut sedang merencanakan kegagalan mengajarnya. Lesson plan harus dibuat sebelum guru mengajar. Tujuan membuat lesson plan (yang paling sederhana) adalah mempermudah proses pengajaran di dalam kelas. Proses pengajaran di dalam kelas akan berjalan efektif, terstruktur dan terorganisir dengan baik apabila lesson plan disiapkan dengan kerangka pemikiran yang kreatif. Dari lesson plan yang dibuat, kreativitas guru pun dapat dilihat dengan jelas. Salah satu cara supaya lesson plan mengandung kreativitas yang tinggi, maka guru tersebut menggunakan cara berpikir layaknya seorang designer. Designer berpikir dengan metode design thinking. Apakah metode design thinking itu? Design thinking adalah proses menciptakan ide-ide baru dan inovatif yang dapat memecahkan masalah. Ada lima fase dalam design thinking yaitu empathize, define, ideate, protothype dan test. Dalam dunia pendidikan, proses design thinking diaplikasikan dalam LAUNCH Cycle. LAUNCH Cycle yang diciptakan oleh John Spencer menggunakan proses design thinking dengan terminologi yang ramah kepada anak-anak sekolah. Selain menggunakan proses design thinking, Launch Cycle juga diciptakan untuk menstimulasi kreatifitas anak.

Continue reading “IMAJINASI: “Mengapa Guru perlu membuat Lesson Plan?”

IMAJINASI : “Mengenal kreatifitas dalam LAUNCH Cycle.”

Kreativitas bukanlah suatu hal yang perlu kita cari atau temukan dengan hanya berharap dan menunggu saja. Kreatifitas adalah hal yang secara natural ada dalam diri kita. Setelah kita menyadari bahwa kita adalah makhluk kreatif, kita dapat mengeluarkannya dan menggunakannya secara alamiah. Kreativitas lahir saat kita mampu menggunakan pemikiran kita dengan jernih, bukan cuma mampu mengungkapkannya dengan kritis dan mampu menggunakannya untuk memecahkan masalah. Menurut KBII, kreativitas adalah kemampuan mencipta. Mencipta adalah sebuah peristiwa yang berawal dari pemikiran di dalam diri manusia, itulah yang membedakan manusia dengan mahluk yang lain. Manusia dalam pikirannya dapat melahirkan ide- ide atau gagasan yang dipicu oleh keadaan di sekitarnya. Misalnya para penemu, mereka dapat menghasilkan gagasan–gagasan yang ada di dalam kepala mereka dan kemudian menciptakan berbagai penemuan yang berguna bagi umat manusia. Kreativitas nampaknya “intangible”, hanya merupakan serentetan ide dan gagsan yang abstrak, dan hanya milik beberapa orang saja. Padahal sejatinya semua manusia adalah mahluk kreatif. Saat kita menyadari bahwa kita adalah mahluk kreatif, kita dapat membuat kreativitas menjadi “tangible“ dalam kehidupan kita. Kreativitas membutuhkan struktur yang tepat agar ide dan gagasan kita mampu kita utarakan dengan jelas, dan menjadi konkret dalam tindakan atau hasil pemikiran yang dapat ditindaklanjuti dengan nyata. 

Continue reading “IMAJINASI : “Mengenal kreatifitas dalam LAUNCH Cycle.””

IMAJINASI : “Aplikasi LAUNCH LESSON PLAN 1 – 2 di dalam kelas.”

Kreativitas bukan sekedar slogan atau tagline yang sering kita dengar atau baca, namun hanya kita mengerti permukannya saja. Kreativitas adalah sebuah sistem berpikir yang mutlak diperlukan bagi setiap orang untuk dapat beradaptasi mengatasi perkembangan jaman. Kreativitas ada namun tidak disadari. Kreativitas terlihat namun tidak dipahami betapa besar kekuatannya. Untuk membudayakan pemikiran kreatif sejak dini, kita dapat mengawalinya dari ruang kelas, dimana siswa sejak level pendidikan dini mendapatkan stimulus yang tepat agar kretativitas muncul dengan natural dan semakin kuat dari waktu ke waktu. Dalam menjawab hal ini, sebuah aplikasi pembelajaran dibutuhkan agar dapat mengembangkan kemampuan siswa sebagai individu yang kreatif dan inovatif, serta memiliki kemampuan berpikir kritis dan sistematis.

Continue reading “IMAJINASI : “Aplikasi LAUNCH LESSON PLAN 1 – 2 di dalam kelas.””

IMAJINASI: “Confirmation Bias.”

Kemudahan dalam mendapatkan informasi membuat kita harus berhati-hati dalam menerima, memilih dan menyaring informasi yang kita dapatkan. Semua informasi yang kita dapat tidak boleh diterima mentah-mentah dan dianggap sebagai satu-satunya fakta, karena bisa jadi itu sebuah kebohongan. Kita harus memastikan fakta tersebut di dukung oleh data–data yang kuat dan akurat.

Alex Edmans menyatakan bahwa sebuah informasi bukanlah sebuah fakta, karena bisa saja itu bukanlah sebuah kebenaran. Fakta bukanlah data, karena mungkin saja itu tidak bisa mewakili sebuah teori tertentu. Dan data bukanlah bukti bila data tidak konsisten dengan teori pembandingnya.  Oleh sebab itu, kita perlu meyakinkan diri kita apakah data yang didapat itu diperoleh dari sumber informasi yang benar. Jika kita tidak mengkonfirmasi informasi yang didapat, maka akan terjadi bias konfirmasi.

Bias konfirmasi terjadi saat kita melakukan pengolahan data tanpa sikap kritis. Hanya berdasar keyakinan subyektif dan cenderung emosional. Karena emosional maka logika dinomorduakan. Sebagai guru, jika hal ini dilakukan akan sangat berbahaya. Meyakini informasi yang didapat begitu saja sebagai bukti tanpa konfirmasi dan pembuktian lanjutan akan salah dalam menyimpulkan permasalahan.