Category: Group1/TTC2

Kegiatan Outdoor Learning untuk Anak Usia 10-15 Tahun (1)

Menginjak usia remaja (10 – 15 tahun) anak-anak terkadang terlihat sebagai sekumpulan individu yang susah diberitahu dan diatur. Mereka ingin mengatur dirinya sendiri dan kalau perlu mengatur orang dewasa. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari perkembangan kognitif mereka. Seringkali orang dewasa mengalami hambatan berkomunikasi dengan anak-anak karena referensi mereka yang minim tentang perkembangan anak. Mereka acapkali tidak sejalan dengan cara berpikir dan berkehendak. Hambatan komunikasi ini rupanya tidak hanya dialami oleh orangtua dan anaknya, namun juga dialami oleh guru-guru di sekolah. Tak jarang guru kehabisan ide untuk berkomunikasi dengan anak didiknya. Anak-anak sering bertanya pertanyaan-pertanyaan kritis kepada guru. Tidak jarang guru kesulitan menjawab dan harus mencari jalan supaya bisa menjawab pertanyaan siswa. Apalagi jaman sekarang, dimana teknologi begitu maju, guru harus mempersiapkan strategi terbaiknya untuk mengajar. Guru harus berada di posisi 100 langkah di depan siswa. Salah satu yang harus dipersiapkan dan dikuasai guru adalah pengetahuan mereka tentang perkembangan kognitif anak. Pengetahuan ini tentunya akan sangat membantu guru-guru dalam memahami, memperlakukan dan mendidik anak. Continue reading “Kegiatan Outdoor Learning untuk Anak Usia 10-15 Tahun (1)”

Merancang Prosedur Kegiatan Outdoor Learning dengan Design Thinking (2)

Dalam menjawab tantangan masa depan, institusi pendidikan dituntut untuk memperkaya program yang tepat sasaran dan inovatif sehingga guru dan anak didik mampu menjalani dan memanfaatkan tantangan-tantangan yang ada di masa datang. Tony Wegner menuliskan bahwa generasi saat ini harus dilatih dan mahir dalam menguasai ketrampilan-ketrampilan yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan di masa datang. Wegner menyebutnya sebagai Seven Survival Skills: Continue reading “Merancang Prosedur Kegiatan Outdoor Learning dengan Design Thinking (2)”

Aspek- Aspek dan Sukses Kriteria Kegiatan Outdoor Learning (3)

Aspek-Aspek Kegiatan Outdoor Learning. Dalam kegiatan Outdoor Learning, terdapat beberapa aspek yang harus dipertimbangkan. Pertama kompetensi guru. Guru berperan penting sebagai pendamping, fasilitator dan penggagas kegiatan. Oleh sebab itu guru harus memiliki kompetensi untuk dapat menghasilkan kegiatan yang sesuai dengan tujuan. Kompetensi guru tersebut meliputi kemampuan untuk memahami materi dan menyelaraskannya dengan tujuan kegiatan, kemampuan memetakan resiko yang mungkin muncul, kemampuan membuat rencana cadangan yang matang, kemampuan untuk dapat menanggulangi masalah yang mungkin timbul berdasarkan pemetaan yang sudah dibuat, serta menciptakan kegiatan yang sesuai dengan tujuan dan materi yang akan diajarkan. Continue reading “Aspek- Aspek dan Sukses Kriteria Kegiatan Outdoor Learning (3)”

Outdoor Learning Standard (4)

Outdoor Learning Standard. Outdoor Learning Standard adalah pedoman atau acuan untuk melaksanakan kegiatan Outdoor Learning berdasarkan indikator-indikator teknis, administratif, dan prosedural yang disajikan dalam bentuk dokumen tertulis. Hal ini dimaksudkan supaya pelaksanaan kegiatan Outdoor Learning menjadi mudah, rapi, dan tertib. Dengan demikian guru akan lebih mudah memahami instruksi-insruksi yang tertulis dalam dokumen tersebut.

Continue reading “Outdoor Learning Standard (4)”

Residential Experience (5)

Residential Experience adalah salah satu bentuk kegiatan Outdoor Learning yang mengajarkan siswa untuk dapat belajar mandiri sekaligus merasakan kehidupan lain yang selama ini mungkin belum pernah dijalani. Program ini berawal dari program berkemah yang sudah lebih populer sebelumnya. Berkemah pada awalnya dirasa menjadi suatu sarana untuk melatih banyak skills survivor. Namun, seiring dengan berkembangnya jaman, sekolah membutuhkan program lain yang dapat mencakup kebutuhan yang lebih mendasar yaitu tidak hanya bertahan hidup namun berinisiatif dan juga mencari peluang untuk maju. Continue reading “Residential Experience (5)”