The Ant: “Tentang Post Truth, Data Collection dan Creativity.”

Perkembangan teknologi yang pesat sangat mempengaruhi dunia, khususnya dalam hal penyampaian informasi. Setiap orang dapat memperoleh informasi dengan sangat mudah dari berbagai sumber. Seringkali orang dengan mudah menerima sebuah informasi dan menganggapnya sebagai sebuah kebenaran tanpa melakukan konfrimasi apakah informasi yang mereka terima adalah sungguh-sungguh sebuah fakta yang sudah terbukti kebenarannya. Jika hal itu terjadi berlarut-larut maka seseorang akan terjebak dalam situasi yang disebut Post Truth. Post Truth adalah suatu kondisi dimana keyakinan dan perasaan pribadi lebih berpengaruh dalam pembentukan opini publik dibandingkan dengan fakta-fakta yang obyektif. Di dalam post truth semua kriteria kebenaran sudah tidak relevan karena obyektifitas dan rasionalitas membiarkan emosi dan hasrat lebih memihak keyakinan

Seorang designer harus sangat berhati-hati dalam mengumpulkan informasi menjadi sebuah data. Designer harus dapat mengedapankan logika dan tidak mendasarkan pada keyakinan diri. Designer pun harus melakukan pengujian yang berulang atas data yang sudah diterima untuk menentukan validitasnya. Untuk itu designer harus mampu membedakan antara informasi, fakta dan data. Sebuah informasi belum tentu merupakan sebuah fakta karena informasi tersebut belum pasti kebenarannya. Sedangkan sebuah fakta belum tentu dapat dijadikan sebagai data apabila fakta tersebut tidak dapat mewakili keseluruhan data.  Data bukanlah bukti apabila data tersebut tidak konsisten dengan teori yang berlawanan.

Langkah pengumpulan data adalah satu tahap yang sangat menentukan proses dan hasil rancangan yang akan dijalankan. Secara umum, suatu rumusan masalah akan menggaris bawahi data dan fakta-fakta dasar dari masalahnya. Kesalahan dalam melaksanakan pengumpulan dan validasi data akan mempengaruhi ketajaman rumusan masalah dan berakibat langsung terhadap proses dan hasil. Membuat rumusan masalah yang tepat merupakan tahapan yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah.

Dalam era Post-Truth, seringkali designer mengalami kekeliruan dalam memahami dan mengolah data. Hal ini disebabkan karena narasi selalu mengalami kemenangan mutlak terhadap data atas fakta yang ada. Kita mengenal adanya dua jenis data yang terkumpul dalam proses Empathize, yakni data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif menunjukan data yang sebenarnya dan kita masih perlu untuk memvalidasikannya meski data tersbut sudah mutlak, sementara data kualitatif menunjukan sebuah perspektif yang perlu digali lebih dalam keakuratanya. Pada data kualitatif inilah designer sering terjebak dalam Confirmation BiasConformation Bias, artinya designer memiliki kecenderungan untuk memperhatikan informasi yang mendukung hal-hal yang dia percaya benar dan mengacuhkan hal-hal yang menyangkal kepercayaannya. Bias konfirmasi sangat marak di era post-truth, maka designer haruslah memiliki kemampuan literasi yang baik. Hal ini berguna untuk menimbang, memilah atau bahkan menilai mana informasi yang sahih, mana yang bukan.

Designer perlu memiliki kecakapan dalam menentukan mana informasi yang benar (real news), mana yang palsu (fake news) dan mana yang keliru (false news). Kekeliruan designer dalam memahami dan mengolah data berdampak pada pembuatan rumusan masalah. Maka betapa pentingnya validasi data atau  pemeriksaan terhadap suatu fakta dan informasi agar data yang sudah dibuktikan kebenarannya dapat digunakan untuk memahami, mengidentifikasi dan memecahkan masalah.

  1. Fact-checking

Seringkali designer menerima sebuah fakta sebagai data, padahal sebenarnya designer sedang terjebak dalam Conformation Bias.

Fakta seringkali diyakini sebagai hal yang sebenarnya, baik karena narasumber telah mengalami kenyataan-kenyataan dari dekat maupun karena narasumber dianggap telah melaporkan pengalaman orang lain yang sesungguhnya. Padahal fakta adalah suatu hasil pengamatan yang objektif dan masih perlu dilakukan verifikasi. Fact checking menjadi instrument penting yang dapat digunakan designer dalam verifikasi fakta dan mengedepankan akurasi data. Fakta dapat dikatakan menjadi sebuah data yang valid apabila disertai dengan evidence (bukti), sebab bukti merupakan sebuah kebenaran akan perisitiwa yang dapat dipertanggungjawabkan.

2. Teknik Bayesian Inference

Seperti yang disampaikan bahwa designer perlu untuk melakukan pengujian atas data yang didapat. Melalui Teknik Bayesian Inference, sebuah data akan diperiksa keabsahanya. Teknik ini menguji sebuah konsistensi data dan keputusan yang sebelumnya telah kita simpulkan terhadap berbagai teori bahkan teori yang berlawanan sekalipun.

Teknik Bayesian Inference ini membutuhkan supporting data (data tambahan) diantaranya adalah:

a. Teori yang berlawanan

Designer dapat menguji datanya dari teori yang berlawanan, dengan mencoba mengkontradiksikan data dengan berbagai ide yang berbeda. Hal-hal tersebut berguna agar data dapat dikatakan reliable karena selalu memberikan hasil yang sama jika diujikan pada kelompok yang sama pada waktu atau kesempatan yang berbeda. Artinya data tersebut betul-betul konsisten meskipun dilihat dari berbagai sudut pandang, sehingga bersifat universal.

b. Merujuk kepada para ahli

Penggunaan berbagai sumber yang berkaitan dengan data yang sedang diteliti, merupakan salah satu instrument yang dapat digunakan untuk menguji data agar menjadi sahih. Pendapat (judgement) atau teori para ahli dalam bidang yang bersangkutan dalam hal ini bidang pendidikanakan, turut menentuka nkesesuaian data. Data yang berdasarkan fakta dikorelasikan pada beberapa teori dan dilihat apakah sudah selaras dengan hasil penelitian terdahulu, atau apakah data sudah dapat mendukung serta konsisten dengan teori-teori tersebut? Melalui tahap ini, maka dapat dilihat ketepatan intepretasi data yang bisa dipertanggungjawabkan.

Apabila adanya penambahan supporting data menghasilkan teori yang konsisten, maka data tersebut dapat dikatakan valid. Namun sebaliknya apabila teori yang didapat tidak konsisten, maka bukan berarti data tersebut tidaklah valid, mungkin hanya teorinya yang tidak tepat. Hal ini akan berpengaruh terhadap keputusan pada rumusan masalah yang akan dibuat. Inilah yang membuat peran data penunjang sangat dipentingkan supaya dapat memberikan aspek yang menguatkan data pokok, sehingga data yang ditelaah memiliki objektivitas yang kuat.

Sebagai sebuah catatan yang terdiri atas kumpulan fakta, data menjadi dasar saat designer menjalankan proses selanjutnya. Data yang diperoleh dapat menjadi suatu anggapan atau fakta karena belum diolah lebih lanjut. Setelah diolah melalui bermacam tahap percobaan seperti Fact-CheckingBayesian Inference, mencari Supporting Data yang salah satunya dengan membandingkan data dengan sudut pandang yang berbeda,  maka suatu data akan terseleksi menjadi bentuk yang lebih kompleks dan akhirnya akan menjadi solusi untuk sebuah masalah.

Data mempunyai kedudukan yang paling tinggi, karena data merupakan komponen utama yang secara mutlak harus dapat diterima secara apa adanya serta lolos dari bermacam kriteria pengujian tersebut. Benar tidaknya data, sangat menentukan keabsahan penentuan masalah yang pastinya berkaitan pada efektifitas solusi yang dihasilkan. Seperti dijelaskan pada poin sebelumnya tentang tantangan terbesar bagi seorang designer yang berupa bebasnya akses informasi. Hal ini membuka kesempatan bagi terjadinya Post-Truth. Post-truth bekerja melalui permainan literacy yang menyerang unsur sentimentil sehingga bagi designer yang kurang kritis, ia akan dengan mudah terpengaruh untuk memasukkan bentuk empati dan simpati pada sebuah fakta. Disinilah tantangan designer dalam memproses data agar menjadi suatu kebenaran yang validitasnya jelas teruji. Karena secara jelas dapat diambil kesimpulan bahwa validitas data berfungsi untuk membuat perumusan masalah demi keputusan terbaik dalam memecahkan masalah. Sebuah data yang valid dapat diibaratkan sebagai dasar perencanaan dari serangkaian proses tindakan yang direncanakan designer. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s