Dongeng Design Thinking. Mungkinkah? (2)

Masa anak-anak selalu dipenuhi dengan dongeng-dongeng yang memikat dan legendaris. Kita masih ingat cerita Timun Emas, Bawang Putih Bawang Merah, Putri Salju, Putri Tidur, atau Malin Kundang. Mungkin kita pun masih mengingat saat Ibu, Ayah atau nenek kita mendongeng. Tak jarang kita terlelap sebelum dongeng berakhir dengan happy ending. Dongeng memiliki kekuatan dahsyat sehingga bisa diingat hingga kita dewasa.


 

Dongeng merupakan sarana pemenuhan kebutuhan seorang anak akan alam khayal. Menurut seorang pendongeng nasional, Ismadi Retty, dongeng tidak hanya bertujuan menghibur, namun juga memberi nasihat dan pelajaran kepada anak-anak. Di dalam dongeng, anak-anak akan menemukan karakter yang mungkin mereka sukai, atau tokoh pahlawan yang memberantas musuh-musuh dengan kekuatannya. Karakter yang diangkat dalam sebuah dongeng biasanya akan membangkitkan daya khayal anak-anak, yang notabene dapat meningkatkan kecerdasan anak dan kreatifitasnya. Anak-anak kemudian suka meniru tokoh idola mereka di dalam dongeng. Mereka juga menginterpretasikan karakter dan isi cerita sesuai alam khayalnya. Dikatakan bahwa anak-anak selalu mendambakan dongeng yang berakhir dengan bahagia atau happy ending.

Perlu kita ketahui bahwa dunia anak adalah dunia imajinasi. Dengan daya imajinasi yang masih sangat bagus ini, maka kita seharusnya bisa mengarahkan dongeng kearah yang positif dan bahkan bisa memasukkan konsep penting yang sulit diterima dengan komunikasi tersurat, namun dengan bantuan dongeng anak-anak bisa menerimanya dengan mudah.

Pertanyaannya, mungkinkah dongeng bergandengan tangan dengan design thinking? Untuk meneliti kemungkinan tersebut, kita harus mengetahui definisi design thinking. Design Thinking adalah metodologi yang menerapkan proses analitis dan kreatif yang membawa seseorang untuk bereksperimen dengan solusi berdasarkan kebutuhan calon pengguna. Di dalam Design Thinking terdapat 5 fase yaitu empathize, define, ideate, prototype dan test. Seluruh fase ini saling berkaitan dan mendukung satu sama lain. Design thinking sangat berguna untuk melatih kita memiliki skema berpikir yang runtut, analitis, kreatif, inovatif dan dapat dipertanggungjawabkan. Di dalam prosesnya, design thinking memerlukan usaha keras dan tidak kenal menyerah hingga solusi bisa ditemukan. Oleh sebab itu, saat seseorang melakukan tindakan design thinking artinya ia sudah melatih dirinya untuk tangguh.

Melihat data-data diatas, maka apabila design thinking bergandengan tangan dengan dongeng sangatlah masuk akal dan berakhir happy ending.

Kita tidak perlu muluk-muluk menargetkan anak harus memahami konsep design thinking seperti halnya orang dewasa memaknainya, namun cukup memperkenlkan kata design thinking dan nama-nama fase yang mengiringinya. Hal ini sesuai dengan pertimbangan perkembangan kognitif anak-anak yang masih sederhana pada taraf ini. Hal ini sejalan pula dengan taksonomi Bloom dimana tahap awal memberikan pengetahuan pada anak harus dimulai dari remembering. Artinya, kita tidak perlu memberikan definisi secara terang-terangan apakah design thinking itu, namun melalui contoh-contoh dan tindakan-tindakan design thinking yang dilakukan tokoh-tokoh dalam dongeng. Dengan demikian anak akan berkenalan dengan konsep dan fase design thinking melalui cara yang mudah. Melalui tokoh-tokoh pula kita bisa menanamkan sikap positif yang ada dalam design thinking. Sama seperti keinginan anak yang menyukai dongeng berakhir dengan happy ending, design thinking pun juga harus berakhir dengan happy ending dimana user puas karena kebutuhannya terpecahkan.***

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s