Melatih Problem Solving Melalui Story Problems (2)

Story Problem. Selama ini kita mengenal story problem dalam matematika. Story Problem berfungsi sebagai kendaraan penting untuk menghubungkan matematika dengan pengalaman sehari-hari. Dalam story problem anak akan belajar konteks, bahasa dan angka-angka. Beberapa panduan penting untuk mengerjakan story problem ditulis dengan hati-hati oleh guru matematika. Langkah hati-hati tersebut memang disengaja supaya anak terbiasa berpikir runtut langkah demi langkah. Sebab dalam story problem ada “pesan tersembunyi” yang disampaikan dan harus diselesaikan. Sebetulnya, konsep story problem bisa digunakan dalam berbagai kebutuhan dan kepentingan. Jadi tidak melulu untuk kepentingan belajar matematika. Belajar problem solving melalui story problem sangat berguna. Sama pentingnya dengan kita belajar matematika. Bila kita mahir problem solving akan membantu kita mendapatkan jawaban di dunia nyata. Artinya problem solving yang kita pelajari berguna jika kita bisa menerapkannya.

Seperti yang dikatakan Piaget bahwa pada tahapan concrete operational dan formal operational, anak-anak memiliki perkembangan kognitif yang sangat progresif. Apabila stimulasi tidak dilakukan dengan baik, maka kognitif anak akan berkembang lambat. Oleh sebab itu melatih anak untuk mengenal, memahami dan mengaplikasikan problem solving bisa dimulai pada kedua tahap ini. Tentunya masalah yang harus dipecahkan disesuaikan dengan karakteristik tiap-tiap tahapan dalam perkembangan kognitif. Secara garis besar, anak-anak memiliki kemampuan membaca yang semakin baik di kedua tahapan ini. Minat membaca mereka juga mulai berkembang. Oleh sebab itu, pelatihan problem solving bisa dikemas dalam story problems. Menurut definition.net story problem adalah “a problem in a story is a conflict that affects the characters or causes big disasters but it usually solved at the end.”

Merujuk pada definisi story problems diatas, maka ada kemungkinan anak-anak mulai diperkenalkan konsep design thinking melalui story problems.

Design Thinking dan Story Problems. Design Thinking saat ini menjadi alternatif prioritas untuk menyelesaikan masalah. Design Thinking menjadi popular karena dianggap mampu menyiapkan pemikiran kita menghadapi abad 21. Dengan melewati proses empathize, define, ideate, prototype dan test, design thinking, design thinking melatih kita untuk tangguh dalam mengatasi dan memecahkan masalah dengan solusi baru.

Sayangnya design thinking belum terlalu populer untuk diperkenalkan kepada anak-anak. Padahal anak-anaklah yang seharusnya dipersiapkan untuk berhasil menjalani abad 21. Abad 21 mendatang diprediksikan akan sangat canggih, kompetitif dan banyak masalah baru yang akan muncul. Oleh sebab itu anak harus dipersiapkan memiliki keahlian maksimal dalam memahami, mengatasi dan memecahkan berbagai masalah.  

Memperkenalkan design thinking kepada anak tentunya harus melalui cara yang paling dekat dan digemari anak-anak. Seperti penjelasan diatas, salah satu cara untuk memperkenalkan konsep design thinking pada anak-anak dapat melalui story problems. Apabila konsep design thinking dimasukkan secara tersirat maupun tersurat kedalam story problems akan mempermudah mereka memahami design thiking yang secara praktek dan teori sulit dilakukan dan dipahami bahkan oleh orang dewasa.

Tantangannya adalah cerita yang digunakan sebagai alat untuk memperkenalkan design thinking proses haruslah mengandung karakteristik perkembangan kognitif yang tepat dan standard design thinking, yang sudah diformulasikan untuk pendidikan. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s